WIB
Memuat cuaca…
Masuk Daftar
Kabar cepat
Data manual
Lifestyle

Berhenti Berpura-pura Sibuk: Seni Memisahkan Kerja dan Hidup

Berhenti Berpura-pura Sibuk: Seni Memisahkan Kerja dan Hidup

Jam menunjukkan pukul 22.47 ketika Rini, seorang manajer pemasaran berusia 34 tahun di Jakarta, menyadari bahwa ia baru saja membalas email klien sambil makan malam bersama keluarganya tanpa benar-benar mencicipi satu pun suapan makanannya.

Situasi seperti yang dialami Rini bukan kejadian langka di kalangan pekerja Indonesia yang kini semakin terhubung dengan pekerjaan nyaris sepanjang waktu melalui berbagai perangkat genggam yang selalu menyala.

Survei dari lembaga riset tenaga kerja global yang dirilis awal 2026 menemukan bahwa rata-rata pekerja kantoran di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menghabiskan hampir 11 jam per hari untuk aktivitas yang berkaitan langsung dengan pekerjaan mereka.

Angka itu jauh melampaui batas delapan jam yang selama ini dianggap wajar, dan ironisnya, sebagian besar kelebihan jam kerja itu terjadi bukan karena tuntutan atasan, melainkan karena kebiasaan yang sudah terbentuk tanpa disadari selama bertahun-tahun.

Ketika Batas Itu Memudar

Masalah terbesar yang dihadapi pekerja urban masa kini bukan soal kurangnya waktu, melainkan soal kaburnya batas antara jam kerja dan waktu pribadi yang seharusnya menjadi ruang pemulihan mental dan fisik.

Ponsel yang terus menyala di meja makan, laptop yang terbuka di sudut kamar tidur, dan kebiasaan mengecek grup kerja di aplikasi pesan sebelum tidur adalah tanda-tanda kecil yang secara perlahan mengikis ruang istirahat seseorang hingga nyaris tidak tersisa.

Para psikolog kerja menyebut kondisi ini sebagai “boundary erosion” atau pengikisan batas, sebuah fenomena yang tumbuh subur justru sejak budaya kerja jarak jauh dan hybrid mulai diadopsi secara masif oleh banyak perusahaan besar di Indonesia pasca pandemi.

Yang membuat kondisi ini semakin rumit adalah fakta bahwa banyak orang justru merasa bersalah ketika berhenti bekerja tepat waktu, seolah produktivitas hanya bisa diukur dari seberapa panjang seseorang duduk di depan layar komputer.

Mulai dari Satu Keputusan Kecil

Psikolog klinis Dr. Amara Putri, yang berbasis di Surabaya dan kerap menangani kasus kelelahan kerja kronis, mengatakan bahwa perubahan nyata dalam keseimbangan hidup seseorang hampir selalu dimulai dari satu keputusan kecil yang konsisten dijalankan setiap hari tanpa pengecualian.

Ia mencontohkan kebiasaan sederhana seperti menetapkan waktu tertentu di mana semua notifikasi pekerjaan dimatikan secara aktif, bukan sekadar diabaikan, sebagai langkah awal yang terdengar sepele namun berdampak besar pada kualitas istirahat seseorang.

Langkah berikutnya yang tak kalah penting adalah menciptakan ritual transisi antara jam kerja dan waktu pribadi, seperti berjalan kaki singkat selama 15 menit, menyeduh teh, atau sekadar berganti pakaian sebagai penanda fisik bahwa hari kerja telah usai dan waktu untuk diri sendiri telah dimulai.

Ritual semacam itu mungkin terdengar terlalu remeh untuk dibahas, namun otak manusia ternyata sangat responsif terhadap isyarat fisik dan lingkungan dalam menentukan mode kerja atau mode istirahat yang perlu diaktifkan pada satu waktu tertentu.

Kenali Bedanya Sibuk dan Produktif

Salah satu jebakan terbesar yang membuat work-life balance sulit dicapai adalah ketidakmampuan membedakan antara kondisi benar-benar produktif dan kondisi hanya tampak sibuk tanpa menghasilkan sesuatu yang berarti di akhir hari.

Produktivitas yang sesungguhnya bukan soal jam yang diisi penuh, melainkan soal seberapa jernih keputusan yang diambil, seberapa berkualitas hasil yang diproduksi, dan seberapa utuh energi yang tersisa untuk menjalani sisa hidup di luar kantor.

Deni, seorang pengembang perangkat lunak berusia 29 tahun yang bekerja di startup teknologi Bandung, mengaku pola kerjanya berubah drastis setelah ia mulai menggunakan metode time-blocking, yaitu membagi hari kerja menjadi blok-blok waktu dengan fokus tunggal tanpa multitasking.

Hasilnya, ia menyelesaikan pekerjaan yang sama dalam waktu enam jam yang terfokus, dibandingkan sembilan jam kerja acak sebelumnya, dan mendapati dirinya masih punya energi cukup untuk berlatih gitar akustik di malam hari, sesuatu yang sudah bertahun-tahun ia tinggalkan.

Tubuh Selalu Lebih Jujur dari Kalender

Kelelahan yang dibiarkan menumpuk tanpa ruang pemulihan yang cukup akan muncul dalam bentuk yang jarang dikaitkan langsung dengan pekerjaan, mulai dari mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi, hingga kehilangan minat pada hal-hal yang dulu terasa menyenangkan dan bermakna.

Tubuh manusia memiliki kapasitas pemulihan yang luar biasa, tetapi ia membutuhkan syarat dasarnya terpenuhi: tidur yang cukup dan berkualitas, waktu tanpa agenda, serta hubungan sosial yang hangat dan hadir secara penuh tanpa gangguan layar digital.

Menjaga keseimbangan antara kerja dan hidup bukan tentang membagi waktu menjadi dua bagian yang sama rata di atas kertas, tetapi tentang memastikan bahwa setiap bagian dari hidup mendapatkan versi terbaik dari diri seseorang pada saat yang tepat dan dengan cara yang tepat.

Mulai Hari Ini, Bukan Besok

Menunggu jadwal yang lebih longgar atau proyek besar yang selesai sebelum mulai menjaga keseimbangan hidup adalah salah satu ilusi paling mahal yang kerap dikonsumsi oleh para pekerja keras dengan penuh keyakinan bahwa momen ideal itu akan tiba suatu saat nanti.

Kenyataannya, tidak ada momen sempurna yang datang menjemput seseorang untuk mulai hidup lebih seimbang, karena keseimbangan itu sendiri adalah sesuatu yang dibangun hari demi hari melalui pilihan-pilihan kecil yang dibuat dengan penuh kesadaran di tengah segala keriuhan.

Rini, yang diceritakan di awal tulisan ini, akhirnya memilih untuk meletakkan ponselnya di laci meja makan setiap pukul 19.00, dan ia mengakui bahwa keputusan kecil itu, meski awalnya terasa tidak nyaman, perlahan mengubah kualitas waktunya bersama keluarga menjadi sesuatu yang jauh lebih nyata dan berkesan.

Keseimbangan yang sehat tidak pernah berasal dari kondisi ideal di luar sana, tetapi dari keberanian untuk menetapkan batasan yang bermakna, mempertahankannya dengan konsisten, dan mempercayai bahwa hidup yang utuh jauh lebih bernilai daripada jadwal yang selalu penuh terisi.

Tulis komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Harian Indonesia Raya

Belum punya akun?