OJK dan Dasco Soroti Masa Depan Pasar Modal, Apa Arti Usulan Rating Sendiri bagi Kepercayaan Investor?

Avatar photo

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:20 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
+ Apresiasi

OJK menanggapi usulan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad di tengah perhatian terhadap transparansi kepemilikan saham, kualitas perdagangan, dan kredibilitas pasar modal Indonesia. (Facebook.com @Prof Dr Ir Sufmi Dasco Ahmad SH, MH)

OJK menanggapi usulan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad di tengah perhatian terhadap transparansi kepemilikan saham, kualitas perdagangan, dan kredibilitas pasar modal Indonesia. (Facebook.com @Prof Dr Ir Sufmi Dasco Ahmad SH, MH)

HARIANINDONESIARAYA.COM – Apakah dukungan parlemen dapat membantu memulihkan kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia setelah MSCI mengusulkan perubahan status pasar saham nasional?

Seberapa jauh gagasan menentukan rating sendiri dapat menjawab kekhawatiran investor global?

Mengapa transparansi, pengawasan, dan penegakan aturan tetap menjadi perhatian dalam polemik tersebut?

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut baik dukungan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad terhadap upaya memperkuat pasar modal Indonesia, tetapi belum memastikan tindak lanjut atas usulan penentuan rating secara mandiri.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyampaikan sikap tersebut di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta Selatan, Senin, (26/10/2026).

“Kami tentu selalu menyambut baik dukungan yang diberikan dan koordinasi yang baik selama ini,” ujar Hasan.

Dukungan Parlemen Belum Berarti Rating Mandiri Segera Dibentuk

Dasco menyampaikan gagasan penentuan rating pasar modal sendiri melalui unggahan Instagram pada Sabtu, (24/10/2026), sebagai respons atas polemik usulan perubahan klasifikasi Indonesia oleh MSCI.

“Di Bursa kita, bersama akan kita buat dan tentukan rating kita sendiri,” tulis Dasco dalam unggahannya.

Namun, ia belum menguraikan bentuk kelembagaan, metode pemeringkatan, maupun mekanisme yang akan digunakan untuk menjalankan gagasan tersebut.

MSCI Menyoroti Transparansi dan Kepercayaan Investor Global

MSCI pada 15 Oktober 2026 mengumumkan konsultasi atas usulan perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Dalam pengumuman tersebut, MSCI mengungkapkan kekhawatiran pelaku pasar mengenai transparansi kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, dan belum terlihatnya bukti kemajuan penegakan aturan yang memadai.

Sorotan tersebut menempatkan kualitas tata kelola dan keterbukaan informasi sebagai bagian penting dalam penilaian terhadap kelayakan pasar saham Indonesia bagi investor global.

OJK Menyatakan Akan Berkoordinasi Lebih Lanjut

Hasan menilai berbagai masukan positif dapat memperkuat pasar modal domestik, tetapi belum menyampaikan keputusan spesifik terkait pembentukan sistem pemeringkatan mandiri.

“Hal-hal yang positif yang diberikan tentu akan menguatkan terus kondisi pasar modal kita. Untuk hal yang spesifik seperti yang ditanyakan, nanti pada waktunya kami akan koordinasi lebih lanjut,” katanya.

Respons itu belum dapat diartikan sebagai persetujuan final OJK untuk membentuk lembaga atau sistem rating yang menggantikan penilaian MSCI.

Reformasi Pasar Modal Menjadi Bagian dari Respons Indonesia

OJK sebelumnya menyatakan komitmen melanjutkan reformasi pasar modal, termasuk meningkatkan keterbukaan kepemilikan saham, memperinci klasifikasi investor, memublikasikan konsentrasi kepemilikan saham, dan menaikkan batas minimum free float.

MSCI membuka periode konsultasi hingga 30 April 2027 dan menjadwalkan keputusan final pada atau sebelum 30 Juni 2027, sehingga masih tersedia waktu untuk menilai perkembangan reformasi Indonesia.

Dukungan politik dapat memperkuat koordinasi, tetapi kredibilitas pasar modal membutuhkan transparansi, penegakan aturan, dan konsistensi reformasi yang dapat dinilai secara objektif oleh investor.****

Berita Terkait

Raksasa Pengelola Dana Investasi Triliunan Dolar AS Akan Berkumpul di New Asia Forum 2026
Cancel Culture dan RANS Carnival, Bagaimana Tekanan Media Sosial Mengubah Keputusan Musisi untuk Mundur?
Manipulasi Saham DSSA dan 9 Sekuritas, Anthony Budiawan Minta OJK Ungkap Fakta dan Perjelas Proses Hukum
Tuntas Digelar, DTIIF 2026 Hasilkan Kemitraan Strategis untuk Industri Nasional
Peluang Investasi Saham di Tengah Tekanan IHSG, 5 Strategi yang Perlu Dicermati Investor Sebelum Bertransaksi
Wilmar International dan Laba 2025, Mengapa Pemeriksaan Kabut Asap Singapura Menarik Perhatian Investor?
Ekspor Nikel Indonesia Mendekati 26 Miliar Dolar AS hingga Agustus 2026, Bagaimana Prospek Target Akhir Tahun?
Sritex dan Masa Depan Industri Tekstil, Danantara Pertimbangkan Akuisisi atau Pembangunan Pabrik Baru

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 19:52 WIB

Raksasa Pengelola Dana Investasi Triliunan Dolar AS Akan Berkumpul di New Asia Forum 2026

Selasa, 3 November 2026 - 19:28 WIB

Cancel Culture dan RANS Carnival, Bagaimana Tekanan Media Sosial Mengubah Keputusan Musisi untuk Mundur?

Senin, 2 November 2026 - 15:01 WIB

Manipulasi Saham DSSA dan 9 Sekuritas, Anthony Budiawan Minta OJK Ungkap Fakta dan Perjelas Proses Hukum

Jumat, 30 Oktober 2026 - 13:41 WIB

Tuntas Digelar, DTIIF 2026 Hasilkan Kemitraan Strategis untuk Industri Nasional

Jumat, 30 Oktober 2026 - 10:16 WIB

Peluang Investasi Saham di Tengah Tekanan IHSG, 5 Strategi yang Perlu Dicermati Investor Sebelum Bertransaksi

Berita Terbaru

Chat via WhatsApp