HARIANINDONESIARAYA.COM – Mengapa Indonesia perlu mengolah mineral sebelum memasarkannya ke dunia, dan seberapa besar potensi nilai ekonomi yang dapat tercipta ketika bauksit berubah menjadi alumina hingga aluminium?
Di tengah minat investor Tiongkok terhadap hilirisasi mineral Indonesia, bagaimana strategi MIND ID membangun industri pengolahan terintegrasi dapat membuka peluang baru bagi investasi, lapangan kerja, dan penerimaan negara?
Apakah kenaikan nilai komoditas setelah pengolahan otomatis menjamin keuntungan bagi industri nasional, atau masih bergantung pada biaya produksi, teknologi, dan kemampuan bersaing di pasar global?
Nilai Bauksit Menjadi Gambaran Potensi Hilirisasi Mineral Indonesia
Pengembangan hilirisasi mineral kembali menjadi sorotan setelah MIND ID memperkuat investasi strategis untuk membangun rantai industri yang menghasilkan nilai tambah lebih besar di dalam negeri.
Dalam materi yang disampaikan MIND ID, nilai bauksit diperkirakan sekitar 40 Dolar AS per ton, meningkat menjadi sekitar 350 Dolar AS setelah diolah menjadi alumina, dan mencapai sekitar 3.200 Dolar AS ketika menjadi aluminium.
Angka tersebut memperlihatkan perbedaan nilai pada tahapan pengolahan, tetapi tidak dapat langsung disamakan dengan keuntungan karena setiap tahap membutuhkan modal, energi, teknologi, dan biaya operasional.
MIND ID Kembangkan Proyek Mineral Terintegrasi Di Sejumlah Wilayah
Holding Industri Pertambangan Indonesia, MIND ID, mengembangkan ekosistem bauksit, alumina, dan aluminium di Kalimantan Barat, pengolahan logam mulia di Gresik, serta ekosistem baterai kendaraan listrik berbasis nikel di Maluku dan Jawa Barat.
Strategi tersebut diarahkan untuk memperpanjang rantai nilai mineral sehingga aktivitas ekonomi tidak berhenti pada kegiatan penambangan dan penjualan bahan mentah.
Wakil Direktur Utama MIND ID, Dany Amrul Ichdan, mengatakan investasi strategis diarahkan untuk menciptakan manfaat jangka panjang melalui penguatan industri mineral nasional.
“Investasi yang kami lakukan tidak hanya berorientasi pada pengembangan aset, tetapi juga untuk membuka babak baru sektor pertambangan Indonesia melalui penguatan rantai nilai mineral.”
“Dengan demikian, lebih banyak nilai tambah, aktivitas ekonomi, dan manfaat yang dapat tercipta bagi negara dan masyarakat,” kata Dany.
Investor Tiongkok Melihat Peluang Pada Sektor Strategis Indonesia
Pada Senin, (26/10/2026), Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Ketua Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa sejumlah korporasi Tiongkok menunjukkan minat terhadap peluang investasi di Indonesia, termasuk hilirisasi mineral.
Penjajakan tersebut berlangsung dalam rangkaian pertemuan dengan calon investor, tetapi belum terdapat konfirmasi bahwa minat tersebut telah berubah menjadi kontrak investasi khusus untuk proyek MIND ID.
Bagi industri mineral Indonesia, potensi kerja sama dapat mencakup pendanaan, pengembangan teknologi, dan penguatan kapasitas pengolahan, bergantung pada kesepakatan yang nantinya diumumkan.
Hilirisasi Perlu Menghasilkan Manfaat Ekonomi yang Terukur
Dany menekankan bahwa investasi mineral harus memperkuat industri nasional, meningkatkan nilai tambah, serta memperbesar manfaat ekonomi yang diterima masyarakat.
“Investasi strategis di sektor mineral bukan hanya tentang membangun fasilitas baru. Yang lebih penting adalah bagaimana investasi tersebut memperkuat industri nasional, meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, memperbesar penerimaan negara.”
- Ekspor Nikel Indonesia Mendekati 26 Miliar Dolar AS hingga Agustus 2026, Bagaimana Prospek Target Akhir Tahun?
- Sritex dan Masa Depan Industri Tekstil, Danantara Pertimbangkan Akuisisi atau Pembangunan Pabrik Baru
- Suroso Isnandar Tekankan Keselamatan Petugas PLN, Kecepatan Pemulihan Tak Boleh Jadi Satu-satunya Ukuran
“Dan menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat. Pada akhirnya, itulah fondasi yang akan memperkuat kedaulatan ekonomi Indonesia,” pungkas Dany.
Keberhasilan hilirisasi pada akhirnya perlu diukur melalui kapasitas produksi, daya saing produk, efisiensi pengolahan, penyerapan tenaga kerja, dan kontribusi nyata terhadap perekonomian Indonesia.****












