Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung membuka Forum Asset Strategist Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Tahun 2026 sekaligus meresmikan peluncuran aplikasi Executive Monitoring and Analytic System (EMAS). Acara tersebut diselenggarakan di Aula Mezzanine, Kompleks Kementerian Keuangan, Jakarta, pada Rabu (4/11) dan dihadiri oleh sejumlah jajaran pejabat Kementerian Keuangan.
Dalam arahannya, Wamenkeu Juda Agung menyampaikan apresiasi atas pencapaian DJKN yang telah berusia dua dasawarsa. Menurutnya, periode 20 tahun pertama merupakan masa membangun fondasi pengelolaan kekayaan negara yang profesional, akuntabel, dan kredibel, sedangkan 20 tahun ke depan harus menjadi era penciptaan nilai atau value creation bagi DJKN. “Aset negara tidak cukup dicatat, diamankan, dan dipelihara. Harus semakin produktif dan memberikan manfaat yang nyata bagi perekonomian dan masyarakat,” tegas Wamenkeu Juda Agung.
Pada kesempatan tersebut, Wamenkeu Juda memberikan tiga pesan utama kepada jajaran DJKN. Pertama, yaitu penguatan peran sebagai asset strategist dan bukan sekedar aset administrator. Ia mengingatkan, tertib administrasi dan kepatuhan tentu menjadi sesuatu yang penting. Namun tantangan pengelolaan aset dan piutang negara yang semakin kompleks membutuhkan kapasitas organisasi, keahlian dan pembagian kewenangan yang semakin baik. “DJKN harus mampu merumuskan strategi dan memberikan solusi bukan hanya menjalankan proses administrasi,” ujar Wamenkeu Juda.
Dalam pesan kedua, Wamenkeu Juda berharap DJKN bisa memastikan pengelolaan kekayaan negara benar-benar menciptakan nilai bagi perekonomian. Fungsi penilaian menurutnya harus mampu mendukung kualitas belanja negara agar setiap rupiah memberi value for money. Demikian pula layanan lelang harus terus diperkuat sebagai instrumen yang mendukung aktivitas ekonomi. Ia menegaskan, keberhasilan DJKN bukan hanya diukur dari besarnya aset yang dikelola, tetapi juga dari nilai ekonomi dan manfaat publik yang dihasilkan.
Terakhir, Wamenkeu berpesan agar DJKN membangun organisasi yang semakin digital, berbasis data dan AI dan serta berorientasi pada hasil. Ia mengatakan, digitalisasi harus menyederhanakan proses, mempercepat layanan, dan meningkatkan kualitas keputusan. Ia pun menyambut baik peluncuran aplikasi EMAS.
Meski demikian, ia menggarisbawahi agar aplikasi EMAS tidak hanya menjadi dashboard, tetapi harus menjadi instrumen pengambilan keputusan berbasis data. “Dan yang tidak kalah penting, setiap keputusan forum ini harus memiliki penanggung jawab, target waktu yang jelas dan hasil yang dapat dievaluasi,” ucapnya.
Sebelum menutup arahannya, Wamenkeu Juda Agung memberikan apresiasi khusus kepada tim yang berhasil mengembangkan database aplikasi EMAS dalam waktu singkat, yaitu 3 bulan, sebagai wujud sinergi “Kemenkeu Satu”. (dm/al)
Sumber: kemenkeu.go.id












