HARIANINDONEISARAYA.COM – Apa arti keterlibatan Anthoni Salim dan Axton Salim dalam rencana penerbitan saham baru PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA)?
Apakah private placement ini akan memperkuat dominasi keluarga Salim dalam struktur kepemilikan bank?
Bagaimana nasib investor lama ketika 350 juta saham baru diterbitkan tanpa hak memesan efek terlebih dahulu?
Rencana private placement PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) menghadirkan dua figur penting dari keluarga Salim, yakni Anthoni Salim dan putranya, Axton Salim.
Melalui dua entitas yang mereka miliki secara manfaat akhir, keluarga Salim disiapkan menjadi penyerap maksimal 350 juta saham baru BINA.
Kedua entitas tersebut adalah PT Bakti Nusa Bangsa (BNB) dan PT Bakti Nusa Jayasentosa (BNJ), dan/atau afiliasinya, berdasarkan keterbukaan informasi perseroan pada Rabu (4/11/2026).
Rencana tersebut menjadi perhatian investor karena BINA sudah berada dalam pengendalian Anthoni Salim melalui PT Indolife Pensiontama.
Anthoni Salim dan Axton Salim Terhubung Melalui Dua Entitas
Dalam dokumen keterbukaan informasi, BINA mengidentifikasi Anthoni Salim dan Axton Salim sebagai pemilik manfaat akhir dari BNB dan BNJ.
Keduanya memiliki hubungan keluarga sebagai ayah dan anak, sedangkan kedua calon investor dan BINA berada dalam pengendalian Anthoni Salim secara langsung maupun tidak langsung.
Dengan struktur tersebut, rencana private placement memperlihatkan keterlibatan dua generasi keluarga Salim dalam penguatan permodalan BINA.
- Danantara Simpan Rp119 Triliun di Deposito, Mengapa Bank Himbara Menjadi Tujuan Utama Penempatan Dana?
- Profil Satrijanto Tirtawisata, Komisaris PANR yang Diminta OJK Kembalikan Keuntungan Tak Sah Rp5,07 Miliar
- Indeks Reformasi Birokrasi Capai 89,81, Kemenko Perekonomian Perkuat Komitmen Reformasi Birokrasi yang Semakin Berdampak
Indolife Menguasai 22,83% Saham BINA
Pengendalian Anthoni Salim terhadap BINA telah tercatat dalam laporan keuangan perseroan.
Per 30 September 2026, PT Indolife Pensiontama memegang 1,401 miliar saham atau sekitar 22,83% dari total saham BINA.
Anthoni Salim tercatat sebagai pemegang saham pengendali terakhir berdasarkan dokumen OJK yang menjadi dasar pengakuan struktur pengendalian bank.
Keterlibatan Grup Salim di BINA sendiri memiliki sejarah sejak 2017 melalui pembelian sekitar 29% saham bank tersebut melalui NS Financials Fund dan NS Asean Financial Fund.
Investor Lama Menghadapi Potensi Dilusi Kepemilikan
BINA menyiapkan penerbitan maksimal 350 juta saham baru dengan nominal Rp100 per saham.
Jumlah tersebut setara 5,69% dari modal ditempatkan dan disetor sebelum aksi korporasi, dengan potensi peningkatan jumlah saham dari 6,148 miliar menjadi 6,498 miliar saham.
Perseroan memperkirakan kepemilikan pemegang saham lama akan terdilusi sekitar 5,39% apabila seluruh saham baru diterbitkan.
Berbeda dengan rights issue, private placement dilakukan tanpa memberikan hak memesan efek terlebih dahulu kepada seluruh pemegang saham lama.
Harga Saham Mengacu Ketentuan Bursa Efek Indonesia
Harga pelaksanaan private placement BINA akan mengikuti ketentuan BEI, yakni minimal 90% dari rata-rata harga penutupan saham selama 25 hari bursa berturut-turut di pasar reguler sebelum permohonan pencatatan saham baru.
Ketentuan tersebut menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan investor dalam menilai harga penerbitan dan potensi dampak transaksi terhadap kepemilikan saham.
Sementara itu, seluruh dana bersih hasil penerbitan saham akan digunakan untuk modal kerja, khususnya mendukung penyaluran kredit.
Penguatan Modal Menjadi Kepentingan Bisnis Bank
Per 30 September 2026, modal inti BINA tercatat Rp2,642 triliun berdasarkan laporan KPMM dan ATMR kepada OJK.
Tambahan modal diharapkan memperkuat struktur permodalan, meningkatkan aset dan ekuitas, serta memperbaiki rasio liabilitas terhadap ekuitas.
Dengan demikian, transaksi ini memiliki dua dimensi penting, yakni penguatan kapasitas permodalan bank dan perubahan komposisi kepemilikan akibat penerbitan saham baru.
Bagi investor BINA, perhatian tidak hanya tertuju pada masuknya Anthoni Salim dan Axton Salim sebagai calon investor, tetapi juga harga pelaksanaan, realisasi transaksi, dan dampak dilusi saham.****












