Kemenko PMK Dorong Optimalisasi Forum PRB dan Relawan dalam Pencegahan Zoonosis dan Penyakit Infeksius Baru

Avatar photo

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 12:00 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
+ Apresiasi

Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) mendorong optimalisasi peran Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan relawan penanggulangan bencana dalam Surveilans Berbasis Masyarakat (SBM) guna memperkuat kesiapsiagaan serta pengurangan risiko bencana nonalam, khususnya zoonosis dan penyakit infeksius baru.

Langkah penguatan tersebut dibahas dalam Rapat Penyelarasan Kebijakan terkait Forum Pengurangan Risiko Bencana dan Relawan Penanggulangan Bencana Surveilans Berbasis Masyarakat (SBM) dalam Upaya Pencegahan Zoonosis dan Penyakit Infeksius Baru, di Jakarta, pada Kamis (29/10/2026).

Rapat yang dilaksanakan dalam kerangka program Collaborative Approach for Resilient Surveillance and Pandemic Preparedness in Indonesia (CARE-I) ini dibuka oleh Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK, Andre Notohamijoyo. Ia menekankan bahwa Forum PRB memiliki posisi vital di tingkat lokal untuk mendeteksi ancaman kesehatan masyarakat sejak dini sebelum berkembang menjadi wabah meluas.

“Forum PRB memiliki posisi strategis dalam memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana nonalam. Melalui keterlibatan berbagai unsur, Forum PRB diharapkan dapat mendukung pengenalan risiko, deteksi dini, dan penyampaian informasi kepada masyarakat secara lebih terkoordinasi,” ujar Andre.

Salah satu tantangan utama yang mengemuka dalam diskusi adalah belum terintegrasinya ancaman zoonosis secara optimal ke dalam dokumen perencanaan dan regulasi di tingkat daerah. Menanggapi hal tersebut, Analis Kebijakan Ahli Madya Kemendagri, Evan Fardianto, menyoroti belum masuknya zoonosis dalam pilar Standar Pelayanan Minimal (SPM) daerah sehingga membutuhkan saluran kebijakan yang tepat.

“Zoonosis ini belum masuk dalam SPM urusan apa pun di daerah, termasuk SPM kesehatan. Lalu, cantolannya di mana bagi pemerintah daerah untuk melaksanakan upaya pencegahan dan penanganannya? Salah satu opsi yang dapat didorong adalah mengintegrasikannya ke dalam SPM urusan kebencanaan,” jelas Evan.

Evan menambahkan bahwa dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) daerah saat ini umumnya baru mencakup 13 jenis ancaman bencana alam, sehingga penyelarasan kebijakan diperlukan agar ancaman wabah dan zoonosis turut mendapatkan alokasi perencanaan serta anggaran yang memadai.

Sementara itu, Direktur Kesiapsiagaan BNPB, Pangarso Suryotomo, memaparkan fungsi konkret yang harus dijalankan Forum PRB untuk menjembatani kesiapsiagaan masyarakat tanpa harus membentuk struktur baru di lapangan.

“Forum PRB memiliki lima peran strategis, yaitu melakukan advokasi agar risiko wabah masuk dalam agenda pengurangan risiko bencana, memperkuat koordinasi multipihak, meningkatkan kapasitas masyarakat melalui edukasi dan pelatihan, melakukan pemetaan partisipatif terhadap wilayah rawan dan kelompok rentan, serta mengawal pemantauan dan evaluasi program,” ungkap Pangarso.

Pangarso menegaskan bahwa Forum PRB difokuskan sebagai simpul koordinasi yang menyatukan kader kesehatan, aparatur desa, peternak, dan tokoh masyarakat untuk memperkuat pelaporan dini dan komunikasi risiko tanpa mengambil alih tugas teknis tenaga kesehatan maupun petugas kesehatan hewan.

Sebagai langkah konkret, rapat ini menyepakati pentingnya integrasi platform surveilans yang ada, optimalisasi Tim Koordinasi Daerah (Tikorda), serta penyusunan rencana aksi strategis lintas kementerian/lembaga. Kemenko PMK memastikan pemerintah terus mengawal sinergi lintas sektor agar kesiapsiagaan menghadapi ancaman zoonosis dan penyakit infeksius baru terbangun secara terintegrasi, responsif, dan berkelanjutan.

Pertemuan tersebut menghadirkan perwakilan dari berbagai kementerian/lembaga dan mitra pembangunan terkait, diantaranya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan, serta Food and Agriculture Organization (FAO).


Sumber: kemenkopmk.go.id

Berita Terkait

Kemenko PMK Matangkan Peta Jalan Satuan Pendidikan Aman Bencana 2026–2029, Perluas Cakupan hingga Pesantren dan Perguruan Tinggi
Kemenko PMK Perkuat Sinergi dengan Mitra Pembangunan dalam Penanggulangan TPPO
Modal Secarik Kertas, Mentan Amran Langsung Kabulkan Permintaan Petani dan Peternak
Mentan Amran Siapkan Sistem Baru agar Peternak Happy, Perkuat Sinergi Petani Jagung dan Koperasi
Kemenko PMK Matangkan Modul Surveilans Berbasis Masyarakat, Perkuat Kewaspadaan Dini
Wamentan Alim Dorong Hilirisasi Perkebunan, Bidik 90 Persen Ekspor dalam Produk Olahan
Wamentan Alim: 3.500 Hektare PM-AAS di Grobogan Sudah Ditanami, Produktivitas Dibidik 11 Ton
Wamentan Saleh: Kedaulatan Pangan Jadi Kekuatan Strategis Bangsa di Tengah Dinamika Geopolitik Global

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 16:46 WIB

Kemenko PMK Perkuat Sinergi dengan Mitra Pembangunan dalam Penanggulangan TPPO

Kamis, 5 November 2026 - 14:35 WIB

Modal Secarik Kertas, Mentan Amran Langsung Kabulkan Permintaan Petani dan Peternak

Kamis, 5 November 2026 - 14:34 WIB

Mentan Amran Siapkan Sistem Baru agar Peternak Happy, Perkuat Sinergi Petani Jagung dan Koperasi

Kamis, 5 November 2026 - 09:48 WIB

Kemenko PMK Matangkan Modul Surveilans Berbasis Masyarakat, Perkuat Kewaspadaan Dini

Kamis, 5 November 2026 - 09:16 WIB

Wamentan Alim Dorong Hilirisasi Perkebunan, Bidik 90 Persen Ekspor dalam Produk Olahan

Berita Terbaru

Chat via WhatsApp