Luncurkan PROSPERA Fase II, Pemerintah Indonesia dan Australia Perkuat Reformasi Kelembagaan Ekonomi

Avatar photo

Kamis, 22 Oktober 2026 - 12:19 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
+ Apresiasi

Pemerintah terus memperkuat kerja sama ekonomi internasional untuk mendorong pertumbuhan nasional yang kuat, berkelanjutan, dan merata. Komitmen ini diwujudkan lewat perpanjangan kemitraan strategis dengan Pemerintah Australia melalui program Kemitraan Australia-Indonesia untuk Pembangunan Ekonomi (Australia–Indonesia Partnership for Economic Development atau PROSPERA) Fase II.

“Pelaksanaan PROSPERA Fase II yang berlandaskan Subsidiary Arrangement antara Kemenko Perekonomian dan DFAT menegaskan komitmen perpanjangan program 10 tahun ini. Saya mendorong seluruh kementerian dan lembaga untuk terlibat aktif serta menerjemahkan berbagai formulasi kebijakan menjadi hasil-hasil yang konkret bagi masyarakat,” ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat menyampaikan closing remarks pada acara Launch of Prospera Phase Two The Australia-Indonesia Partnership for Economic Development di Jakarta, Kamis (22/10).

Melalui PROSPERA Fase II, Pemerintah memfokuskan dukungan pada dua agenda reformasi besar, yakni aksesi Indonesia pada Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dan Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP). Dalam proses aksesi OECD yang ditargetkan rampung pada 2028, Indonesia telah menyelesaikan 20 dari 25 bagian (initial memorandum) atau mencapai progress sekitar 80%. Sementara pada CPTPP, Pemerintah berharap proses aksesi dapat disepakati oleh seluruh negara anggota pada pertemuan November mendatang.

Di sektor digital, PROSPERA diharapkan dapat mendukung penyiapan sumber daya manusia dan pengembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Langkah ini sejalan dengan posisi Indonesia sebagai pemegang ekonomi digital terbesar di ASEAN serta persiapan penandatanganan Digital Economy Framework Agreement (DEFA) ASEAN di Manila pada bulan depan.

Guna mengoptimalkan hubungan ekonomi bilateral, Pemerintah juga mendorong perluasan kerja sama pariwisata dan konektivitas udara melalui penambahan penerbangan regional langsung antara kota-kota di Indonesia dan Australia.

Kemenko Perekonomian dan DFAT bersiap menggelar PROSPERA Advisory Board Meeting guna meninjau arah strategis serta memfinalisasi Rencana Kerja Strategis (Strategic Work Plan) dan Rencana Kerja Tahunan (Annual Work Plan) yang selaras dengan prioritas pembangunan nasional.

“Keberhasilan PROSPERA Fase II tidak hanya diukur dari kegiatan yang dilaksanakan, melainkan dari perbaikan berkelanjutan pada kualitas kelembagaan ekonomi Indonesia serta manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara. Semoga momen ini menjadi penanda pembaruan komitmen kita menuju masa depan yang lebih kuat dan makmur bagi Indonesia dan Australia,” tegas Menko Airlangga.

Turut hadir dalam peluncuran tersebut antara lain Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong, Menteri Keuangan RI Suahasil Nazara, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Duta Besar Australia untuk Indonesia Roderick Brazier, Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso, Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kemenko Perekonomian Edi Prio Pambudi, Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian Ali Murtopo Simbolon, Plt. Deputi Bidang Koordinasi Industri, Ketenagakerjaan, dan Pariwisata Kemenko Perekonomian Dida Gardera, perwakilan Kementerian/Lembaga teknis kedua negara, serta para pemimpin dunia usaha dan asosiasi bisnis. (aml/fln/tam)


Sumber: ekon.go.id

Berita Terkait

Perkuat Tata Kelola Perkebunan, Pemerintah Dorong Pendanaan, Transparansi, dan Keberlanjutan untuk Kesejahteraan Petani
Ekonomi Indonesia Triwulan III-2026 Tumbuh 5,47%, Fundamental Kuat Jaga Momentum Pertumbuhan
Mengapa Bank Bisa Kekurangan Uang Tunai? Memahami Short Liquidity, Liquidity Mismatch, dan Risiko Perbankan
Pandu Sjahrir Evaluasi Portofolio Investasi, Danantara Indonesia Jadi Prioritas dan Supra Sekuritas Mulai Dilepas
OJK Sanksi Mantan Direksi PT Bintang Oto Global Tbk, Begini Duduk Perkara Pencatatan Dana IPO Rp185,4 Miliar
Rekam Jejak Lianiwati di Pasar Modal, Izin WPPE Berakhir 2020 dan Kini Dilarang Beraktivitas 10 Tahun
Bank J Trust Bidik Pertumbuhan Mandiri pada 2027, Abdullah Firman Wibowo Disiapkan Menjadi Direktur Utama
Grup Salim Perkuat Permodalan Bank Ina, Anthoni Salim Siapkan Penyerapan Maksimal 350 Juta Saham BINA

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 22:13 WIB

Perkuat Tata Kelola Perkebunan, Pemerintah Dorong Pendanaan, Transparansi, dan Keberlanjutan untuk Kesejahteraan Petani

Kamis, 5 November 2026 - 18:59 WIB

Ekonomi Indonesia Triwulan III-2026 Tumbuh 5,47%, Fundamental Kuat Jaga Momentum Pertumbuhan

Kamis, 5 November 2026 - 18:17 WIB

Mengapa Bank Bisa Kekurangan Uang Tunai? Memahami Short Liquidity, Liquidity Mismatch, dan Risiko Perbankan

Kamis, 5 November 2026 - 17:33 WIB

Pandu Sjahrir Evaluasi Portofolio Investasi, Danantara Indonesia Jadi Prioritas dan Supra Sekuritas Mulai Dilepas

Kamis, 5 November 2026 - 15:59 WIB

OJK Sanksi Mantan Direksi PT Bintang Oto Global Tbk, Begini Duduk Perkara Pencatatan Dana IPO Rp185,4 Miliar

Berita Terbaru

Chat via WhatsApp