Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Nurkholishoh Ibnu Aman, menegaskan bahwa transformasi Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tidak hanya bertumpu pada penguatan teknologi dan sistem kerja, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia (SDM). Hal tersebut disampaikan Wamenkeu dalam acara Chicago Booth School of Business Forum pada Kamis (4/11) di Jakarta.
Dalam forum tersebut, Wamenkeu menungkapkan proses di balik kinerja Kemenkeu atau yang disebutnya sebagai engine room dari para pegawai yang bekerja di berbagai unit, mulai dari perpajakan, kepabeanan dan cukai, hingga perbendaharaan. Wamenkeu juga membagikan berbagai inovasi dan perubahan yang dilakukan Kemenkeu dalam meningkatkan kinerja organisasi dan pelayanan publik.
“Di balik layar, sebagian besar mungkin tidak terlihat dari Jakarta. Mereka adalah petugas pajak di kota-kota kecil, petugas bea cukai di pelabuhan wilayah luar Indonesia yang bekerja siang dan malam, serta pegawai perbendaharaan yang memastikan guru dan prajurit menerima gaji tepat waktu. Negara dan APBN berjalan berkat pekerjaan mereka,” ungkap Wamenkeu.
Dalam kesempatan tersebut, Wamenkeu menjelaskan salah satu transformasi yang dilakukan pada Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Wamenkeu menyampaikan bahwa sejak 2005, nilai pengelolaan APBN meningkat enam kali lipat, sementara jumlah pegawai perbendaharaan justru turun dari sekitar 15.000 menjadi 6.000 orang.
- Pandu Sjahrir Evaluasi Portofolio Investasi, Danantara Indonesia Jadi Prioritas dan Supra Sekuritas Mulai Dilepas
- OJK Sanksi Mantan Direksi PT Bintang Oto Global Tbk, Begini Duduk Perkara Pencatatan Dana IPO Rp185,4 Miliar
- Rekam Jejak Lianiwati di Pasar Modal, Izin WPPE Berakhir 2020 dan Kini Dilarang Beraktivitas 10 Tahun
Hal tersebut dimungkinkan melalui penyederhanaan proses, digitalisasi, dan optimalisasi sistem. Data kini cukup dimasukkan sekali dari sumbernya, sementara berbagai pemeriksaan yang sebelumnya dilakukan secara manual telah digantikan oleh sistem..
Di bidang kepabeanan dan cukai, Kemenkeu juga mengembangkan teknologi kecerdasan buatan melalui Trade AI. Teknologi ini membantu petugas membandingkan nilai barang yang diberitahukan dengan informasi yang tersedia di internet, sehingga proses pemeriksaan dan identifikasi potensi under invoicing dapat dilakukan lebih cepat.
Meski demikian, Wamenkeu menekankan bahwa teknologi tetap harus didukung integritas dan profesionalisme pegawai.
“AI dapat membantu memberikan penanda, tetapi keputusan tetap berada di tangan petugas. Mata manusia, integritas, dan profesionalisme mereka tetap menentukan,” tegasnya.
Menutup sambutannya, Wamenkeu menegaskan komitmen untuk melanjutkan transformasi Kemenkeu melalui pendekatan berbasis bukti, penguatan sistem, dan perhatian terhadap manusia sebagai penggerak utama organisasi.
“Satu perbaikan kecil, jika dikalikan dengan seluruh pegawai, saya yakin akan menghasilkan transformasi yang besar dan mendasar,” pungkas Wamenkeu. (lh/al)
- Bank J Trust Bidik Pertumbuhan Mandiri pada 2027, Abdullah Firman Wibowo Disiapkan Menjadi Direktur Utama
- Grup Salim Perkuat Permodalan Bank Ina, Anthoni Salim Siapkan Penyerapan Maksimal 350 Juta Saham BINA
- Danantara Simpan Rp119 Triliun di Deposito, Mengapa Bank Himbara Menjadi Tujuan Utama Penempatan Dana?
Sumber: kemenkeu.go.id












