Apa yang dibutuhkan Danantara untuk merealisasikan target investasi hingga 30 miliar Dolar AS dalam dua sampai tiga tahun ke depan, di tengah besarnya kebutuhan pendanaan industri strategis?
Berapa banyak proyek yang sudah siap dikerjakan, dan berapa yang masih harus melewati studi kelayakan sebelum masuk ke tahap perancangan teknik serta pelaksanaan investasi?
Apakah target investasi ratusan triliun rupiah ini akan menghasilkan industri baru dan peningkatan nilai tambah, atau masih membutuhkan waktu untuk mengubah perencanaan menjadi kegiatan ekonomi nyata?
Danantara Indonesia menargetkan investasi industri strategis sebesar 20–30 miliar Dolar AS atau sekitar Rp361,4 triliun hingga Rp542,1 triliun dalam dua sampai tiga tahun mendatang.
- Perkuat Tata Kelola Perkebunan, Pemerintah Dorong Pendanaan, Transparansi, dan Keberlanjutan untuk Kesejahteraan Petani
- Ekonomi Indonesia Triwulan III-2026 Tumbuh 5,47%, Fundamental Kuat Jaga Momentum Pertumbuhan
- Mengapa Bank Bisa Kekurangan Uang Tunai? Memahami Short Liquidity, Liquidity Mismatch, dan Risiko Perbankan
Chief Technology Officer (CTO) Danantara Indonesia, Sigit Puji Santosa, menyampaikan target tersebut dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026).
“Kalau kita bisa mencapai 20-30 miliar dolar AS dalam waktu 2-3 tahun ke depan, itu akan sangat bagus. Tapi kami ingin lebih dari itu,” kata Sigit.
Lebih dari 40 Proyek Belum Berarti Seluruhnya Siap Dibangun
Danantara menyiapkan lebih dari 40 proyek industri strategis dalam kerangka pengembangan lima tahun, dengan sejumlah proyek masih berada dalam proses studi kelayakan atau feasibility study (FS).
Tahap berikutnya dapat berupa perancangan teknik awal atau front-end engineering design (FEED), sesuai kebutuhan dan kesiapan masing-masing proyek.
Dengan tahapan tersebut, jumlah proyek yang masuk portofolio perlu dibedakan dari proyek yang sudah memperoleh keputusan investasi atau mulai dibangun.
Sektor Prioritas Mencakup Industri Strategis
Portofolio Danantara meliputi energi, pangan dan teknologi kesehatan, infrastruktur, mobilitas dan telekomunikasi, pertahanan, maritim dan dirgantara, material maju, serta industri lain seperti elektronika, permesinan, teknologi finansial dan semikonduktor.
- Pandu Sjahrir Evaluasi Portofolio Investasi, Danantara Indonesia Jadi Prioritas dan Supra Sekuritas Mulai Dilepas
- OJK Sanksi Mantan Direksi PT Bintang Oto Global Tbk, Begini Duduk Perkara Pencatatan Dana IPO Rp185,4 Miliar
- Rekam Jejak Lianiwati di Pasar Modal, Izin WPPE Berakhir 2020 dan Kini Dilarang Beraktivitas 10 Tahun
Mineral, material maju dan semikonduktor menjadi prioritas karena dinilai berpotensi memberikan dampak ekonomi besar bagi Indonesia.
Sigit menekankan pengembangan mineral perlu bergerak melampaui ekstraksi menuju produksi komponen, subsistem dan produk akhir yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Pendanaan dan Kemitraan Menentukan Pelaksanaan
Danantara menyatakan akan mengutamakan pengembangan industri yang sudah ada, termasuk BUMN, dan menjajaki kemitraan strategis apabila kemampuan domestik belum mencukupi.
“Dan kalaupun memang tidak ada yang existing, maka Danantara juga siap membangun industri baru bersama mitra-mitra strategis kita,” ujar Sigit.
Pendekatan tersebut membuka ruang bagi kolaborasi untuk mengembangkan teknologi dan kapasitas produksi, tetapi hasilnya bergantung pada kesiapan mitra serta kelayakan setiap proyek.
Energi, Kesehatan dan Digital Memperluas Cakupan
Danantara memaparkan rencana pengembangan tenaga surya 100 GW, pengolahan batu bara menjadi dimetil eter, pembangkit listrik tenaga nuklir, kilang minyak, rantai nilai baterai kendaraan listrik, AI nasional dan pusat data berkapasitas daya 1 GW.
Pada sektor kesehatan, portofolionya mencakup bahan baku farmasi, vaksin, obat biologis, biosimilar dan peralatan medis, sementara kebutuhan bahan baku obat Indonesia disebut masih hampir 94 persen bergantung pada impor.
Besarnya cakupan proyek membuat penentuan prioritas, pembiayaan, kesiapan teknis dan kemitraan menjadi bagian penting dari upaya mencapai target investasi.
Target 30 miliar Dolar AS memberikan gambaran ambisi industrialisasi Danantara, tetapi perkembangan studi kelayakan, keputusan pendanaan dan realisasi proyek akan menentukan hasil akhirnya.****












