Pemerintah Jaga Stabilitas Ekonomi Dalam Negeri untuk Pertahankan Kepercayaan Investor

Avatar photo

Kamis, 22 Oktober 2026 - 17:17 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
+ Apresiasi

Prospek ekonomi global 2027 diperkirakan membaik dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 3,1%, perdagangan tumbuh sekitar 3,3%, dan tingkat inflasi global melandai menjadi 3,7%. Namun, ke depannya juga Indonesia masih akan dibayang-bayangi oleh tensi geopolitik, proteksionisme, dan volatilitas pasar keuangan.

Menghadapi berbagai tantangan itu, Indonesia harus tangguh sekaligus menangkap peluang yang akan muncul. Hal itu juga didukung fundamental ekonomi nasional yang masih tetap solid, dengan pertumbuhan sebesar 5,45% pada Semester I 2026, tingkat inflasi pada September 2026 terkendali di 3,28%, dan jumlah investasi pada Januari-September 2026 mencapai Rp1.539,2 triliun atau tumbuh 7,3% (yoy).

“Yang encouraging itu PMI Manufaktur, yang sebelumnya di bawah 50, sekarang growing menjadi 52,4. Kita semua tahu kalau PMI di atas 50 artinya terjadi ekspansi, dan manufaktur itu menjadi penyumbang sangat krusial bagi pertumbuhan kita. Kemudian, poverty itu declining, pengangguran terbuka juga sudah sangat rendah di angka 4,65%. Rasio Gini nilainya juga sangat bagus di 0,368, karena kalau nilai Rasio Gini semakin rendah maka makin bagus, sebab ketimpangannya semakin berkurang,” papar Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo, ketika memberikan keynote speech pada acara Permata Bank Wealth Wisdom 2026: “Leading with Integrity and Purpose”, di Jakarta, Kamis (22/10).

Stabilitas tersebut memberikan ruang bagi perbankan untuk memperluas pembiayaan produktif sekaligus menjaga kepercayaan investor. Kinerja perbankan cukup baik dengan pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 13,65%, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 10,94%, permodalan (CAR) masih stabil di 24,10%, dan angka kredit macet (NPL) juga terjaga di 2,11% pada Agustus 2026.

“Stabilitas ekonomi tentu harus kita maksimalkan untuk menghasilkan manfaat nyata. Kita bisa lihat bagi masyarakat, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) mencapai Rp250,43 triliun, bantuan sosial itu terealisasi Rp115,8 triliun. Jadi, sebenarnya negara masih sangat kuat mengalokasikan dana yang cukup besar untuk program-program sosial dan stimulus bagi masyarakat,” ungkap Wamenko Dradjad.

Terdapat 26 proyek hilirisasi senilai Rp225 triliun yang diproyeksikan menciptakan sekitar 37.833 lapangan kerja di masa depan. Capaian tersebut menjadi landasan untuk meningkatkan pertumbuhan menuju 6% pada 2027 dan 8% dalam jangka menengah.

Pencapaiannya bertumpu pada tiga prasyarat, yaitu investasi yang tumbuh lebih cepat daripada PDB, peningkatan produktivitas, serta ekspor bernilai tambah dengan dukungan logistik yang efisien. Karena itu, Pemerintah memperkuat konsumsi rumah tangga, meningkatkan kualitas belanja publik, serta mempercepat investasi dan ekspor.

“Selain itu, kita juga harus bisa memastikan bahwa investasi dan perdagangan menjadi sumber pertumbuhan baru, bukan sekadar mempertahankan momentum yang sudah ada. Untuk mempercepat investasi, Pemerintah memperkuat kepastian berusaha melalui PP Nomor 28 Tahun 2025, penyederhanaan perizinan berbasis risiko, dan kepastian waktu pelayanan. Penyelesaian hambatan investasi juga diperkuat lewat koordinasi lintas Kementerian/Lembaga, karena kepastian regulasi dan akuntabilitas adalah kunci kepercayaan investor,” pungkas Wamenko Dradjad.

Turut hadir dalam acara ini yaitu di antaranya Komisaris Utama Permata Bank Riswinandi, Presiden Direktur Permata Bank Meliza M. Rusli, para Komisaris dan Direksi Permata Bank, Chief Economist Permata Bank Josua Pardede, dan Chairman Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal. (rep/iqb/tam)


Sumber: ekon.go.id

Berita Terkait

Perkuat Tata Kelola Perkebunan, Pemerintah Dorong Pendanaan, Transparansi, dan Keberlanjutan untuk Kesejahteraan Petani
Ekonomi Indonesia Triwulan III-2026 Tumbuh 5,47%, Fundamental Kuat Jaga Momentum Pertumbuhan
Mengapa Bank Bisa Kekurangan Uang Tunai? Memahami Short Liquidity, Liquidity Mismatch, dan Risiko Perbankan
Pandu Sjahrir Evaluasi Portofolio Investasi, Danantara Indonesia Jadi Prioritas dan Supra Sekuritas Mulai Dilepas
OJK Sanksi Mantan Direksi PT Bintang Oto Global Tbk, Begini Duduk Perkara Pencatatan Dana IPO Rp185,4 Miliar
Rekam Jejak Lianiwati di Pasar Modal, Izin WPPE Berakhir 2020 dan Kini Dilarang Beraktivitas 10 Tahun
Bank J Trust Bidik Pertumbuhan Mandiri pada 2027, Abdullah Firman Wibowo Disiapkan Menjadi Direktur Utama
Grup Salim Perkuat Permodalan Bank Ina, Anthoni Salim Siapkan Penyerapan Maksimal 350 Juta Saham BINA

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 22:13 WIB

Perkuat Tata Kelola Perkebunan, Pemerintah Dorong Pendanaan, Transparansi, dan Keberlanjutan untuk Kesejahteraan Petani

Kamis, 5 November 2026 - 18:59 WIB

Ekonomi Indonesia Triwulan III-2026 Tumbuh 5,47%, Fundamental Kuat Jaga Momentum Pertumbuhan

Kamis, 5 November 2026 - 18:17 WIB

Mengapa Bank Bisa Kekurangan Uang Tunai? Memahami Short Liquidity, Liquidity Mismatch, dan Risiko Perbankan

Kamis, 5 November 2026 - 17:33 WIB

Pandu Sjahrir Evaluasi Portofolio Investasi, Danantara Indonesia Jadi Prioritas dan Supra Sekuritas Mulai Dilepas

Kamis, 5 November 2026 - 15:59 WIB

OJK Sanksi Mantan Direksi PT Bintang Oto Global Tbk, Begini Duduk Perkara Pencatatan Dana IPO Rp185,4 Miliar

Berita Terbaru

Chat via WhatsApp