HARIANINDONESIARAYA.COM – Mengapa masyarakat dapat menahan belanja besar meskipun ekonomi Indonesia masih tumbuh, dan bagaimana ketidakpastian pekerjaan memengaruhi keputusan keuangan rumah tangga?
Apakah perpindahan pekerja dari sektor formal ke sektor informal serta kontrak kerja berdurasi pendek dapat memperlemah keyakinan masyarakat terhadap pendapatan dan masa depan ekonomi mereka?
Bagaimana penguatan industri dan penciptaan pekerjaan yang lebih berkualitas dapat membantu menjaga konsumsi rumah tangga sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia?
Ketidakpastian pekerjaan dan pendapatan menjadi salah satu persoalan yang disoroti Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, S.E., M.Si., dalam melihat kecenderungan stagnasi ekonomi Indonesia.
- Perkuat Tata Kelola Perkebunan, Pemerintah Dorong Pendanaan, Transparansi, dan Keberlanjutan untuk Kesejahteraan Petani
- Ekonomi Indonesia Triwulan III-2026 Tumbuh 5,47%, Fundamental Kuat Jaga Momentum Pertumbuhan
- Mengapa Bank Bisa Kekurangan Uang Tunai? Memahami Short Liquidity, Liquidity Mismatch, dan Risiko Perbankan
BPS mencatat pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,29 persen secara tahunan pada Triwulan II-2026, tetapi Anton menilai pertumbuhan tersebut masih menghadapi persoalan struktural yang menghambat peningkatan aktivitas ekonomi secara lebih luas.
“Kalau dari sisi ekonomi kita sebenarnya sekarang tidak ada masalah-masalah, kita cuma satu stagnan, mundur ya nggak tapi maju ya nggak ya stagnan di situ,” ujar Anton pada Senin, (26/10/2026).
Ketidakpastian Pekerjaan Dapat Mengubah Keputusan Belanja Masyarakat
Anton menyoroti kemungkinan perpindahan pekerja dari sektor formal ke sektor informal ketika pekerjaan formal tidak lagi tersedia atau tidak memberikan kepastian yang memadai.
Ia juga menyoroti praktik kontrak kerja berdurasi pendek di sejumlah industri yang dapat menimbulkan ketidakpastian mengenai keberlanjutan pekerjaan dan penghasilan pekerja.
Dalam kondisi tersebut, masyarakat yang khawatir kehilangan pekerjaan atau mengalami penurunan pendapatan dapat memilih menahan pengeluaran dan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan keuangan.
- Pandu Sjahrir Evaluasi Portofolio Investasi, Danantara Indonesia Jadi Prioritas dan Supra Sekuritas Mulai Dilepas
- OJK Sanksi Mantan Direksi PT Bintang Oto Global Tbk, Begini Duduk Perkara Pencatatan Dana IPO Rp185,4 Miliar
- Rekam Jejak Lianiwati di Pasar Modal, Izin WPPE Berakhir 2020 dan Kini Dilarang Beraktivitas 10 Tahun
Pembelian Rumah dan Kendaraan Berpotensi Ditunda Ketika Pendapatan Tidak Pasti
Menurut Anton, kekhawatiran terhadap kondisi pekerjaan dapat mendorong masyarakat menunda pembelian bernilai besar, seperti rumah dan kendaraan, serta memilih menyimpan uang tunai.
Jika perilaku tersebut meluas, aktivitas transaksi berpotensi melambat sehingga ketidakpastian rumah tangga dapat ikut memengaruhi dinamika konsumsi dan pertumbuhan ekonomi.
Kondisi ini menunjukkan pentingnya kualitas pertumbuhan, sebab kenaikan produk domestik bruto belum otomatis menggambarkan kepastian pendapatan dan kondisi pekerjaan seluruh masyarakat.
Penguatan Industri Dibutuhkan untuk Memperluas Kesempatan Kerja
Anton menilai penguatan manufaktur perlu berjalan bersama perbaikan kualitas sumber daya manusia dan pengembangan hilirisasi agar kegiatan industri mampu menghasilkan nilai tambah serta kesempatan kerja yang lebih luas.
Ia juga mendorong perluasan kawasan industri siap pakai untuk mengurangi hambatan investasi dan mempercepat realisasi pembangunan fasilitas produksi.
“Selama kita tidak memperbanyak kawasan industri khusus yang nanti akan jadi motor pertumbuhan ekonomi ya nonsense,” tegas Anton.
Pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas membutuhkan industri produktif dan pekerjaan yang lebih pasti agar masyarakat memiliki kepercayaan terhadap pendapatan, berani berbelanja, dan ikut menggerakkan aktivitas ekonomi.****












