HARIAN INDONESIA RAYA– Mengapa kebakaran seluas 513,89 hektare di Taman Nasional Tanjung Puting menjadi perhatian khusus Presiden Prabowo Subianto di tengah operasi pemadaman karhutla 2026?
Bagaimana pemerintah mengatasi medan rawa yang sulit dijangkau kendaraan dan menghambat pergerakan petugas?
Seberapa efektif penambahan pompa air, titik bor, dan penguatan personel dalam mempercepat pemadaman sekaligus mencegah kebakaran kembali meluas?
Presiden Prabowo Subianto memerintahkan penanganan khusus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, dengan dukungan 200 pompa air dan anggaran Rp2 miliar untuk pembuatan 200 titik bor air.
- Jokowi dan Polemik Pemakzulan Gibran, Apa Makna Pernyataan soal Proses Hukum serta Hak dalam Konstitusi?
- ASN Muda Inspiratif Representasi KORPRI: Kemenko PMK Seleksi Calon Duta KORPRI 2026-2027
- Penyadapan Prabowo Diduga Sasar Pejabat hingga Media, Jokowi Buka Suara dan Bareskrim Tetapkan Empat Tersangka
Arahan tersebut disampaikan saat Prabowo memimpin rapat perkembangan penanganan karhutla secara hybrid dari Istana Merdeka, Jakarta, Senin, (12/10/2026).
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto melaporkan bahwa kebakaran baru seluas 513,89 hektare ditemukan di kawasan taman nasional yang berada di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan.
Kebakaran Tanjung Puting Menghadapi Kendala Medan dan Asap Tebal
Presiden Prabowo menegaskan pentingnya melindungi kawasan konservasi tersebut dengan menyatakan, “Taman Nasional Tanjung Puting menjadi perhatian karena itu taman nasional,” sebagaimana dikutip dari keterangan resmi Sekretariat Negara.
Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin melaporkan bahwa titik kebakaran tersebar di kawasan rawa dan sulit dijangkau kendaraan sehingga petugas membutuhkan peralatan yang sesuai dengan kondisi lapangan.
Operasi udara juga menghadapi hambatan karena asap tebal menurunkan jarak pandang, sehingga pemadaman darat menjadi tumpuan utama untuk menangani kebakaran di kawasan tersebut.
Prabowo Tambah Pompa Air dan Anggaran Titik Bor
Dalam rapat tersebut, Pangdam menyampaikan kebutuhan sekitar 50 pompa air berukuran kecil, tetapi Presiden memutuskan menambah dukungan menjadi 200 unit untuk memperkuat pemadaman.
“Berapa kau butuh pompa air? 50? Saya kirim 200,” ujar Presiden Prabowo dalam rapat yang disiarkan melalui kanal resmi pemerintah.
Pemerintah juga menyiapkan Rp2 miliar untuk membangun 200 titik bor air, dengan kedalaman pengeboran sekitar 10–15 meter sesuai kebutuhan yang dilaporkan dari lapangan.
Pemadaman Masih Berlanjut di Enam Provinsi Prioritas
Kepala BNPB Suharyanto melaporkan bahwa hingga Senin, (12/10/2026), masih terdapat 639,23 hektare kebakaran yang ditangani di enam provinsi prioritas, yakni Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Riau.
Suharyanto menjelaskan bahwa Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan masih menghadapi kondisi berat, sementara penanganan di sejumlah wilayah lain menunjukkan perkembangan lebih baik.
Secara keseluruhan, rekap operasi karhutla yang disampaikan dalam bahan pemerintah mencatat 129.956 hektare lahan telah dipadamkan hingga 12 Oktober 2026, dengan Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan luas pemadaman terbesar, mencapai 51.108 hektare.
Penguatan Pencegahan Menjadi Pekerjaan Berikutnya
Presiden Prabowo juga mendorong penguatan polisi hutan secara bertahap menuju target 70.000 personel dan meminta Polri membantu pendidikan serta peningkatan kemampuan petugas.
Pemerintah mengombinasikan pemadaman darat, dukungan udara, penambahan sumber air, dan penguatan personel untuk menekan risiko kebakaran meluas.
Penanganan Tanjung Puting menjadi ujian penting bagi koordinasi lintas instansi, terutama karena akses sulit dan asap tebal menuntut penyesuaian strategi di lapangan.**












