HARIANINDONESIARAYA.COM – Mengapa rumor penggabungan Bank DBS Indonesia dengan BCA mendadak ramai ketika saham BBCA melonjak sekitar 7 persen pada Rabu, (28/10/2026), dan apa fakta yang sebenarnya diketahui investor?
Benarkah pemegang saham DBS Indonesia bakal menerima saham baru BCA jika penggabungan itu terjadi, atau informasi tersebut hanya spekulasi media sosial yang belum memiliki konfirmasi resmi dari kedua pihak?
Bagaimana investor sebaiknya membaca perubahan harga saham BCA setelah kabar merger dibantah, terutama ketika pasar modal Indonesia masih menghadapi ketidakpastian dan perhatian terhadap transparansi perdagangan saham?
Rumor penggabungan PT Bank DBS Indonesia dengan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) beredar luas di media sosial, tetapi Bank DBS Indonesia menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar.
- Ekonomi Indonesia Triwulan III-2026 Tumbuh 5,47%, Fundamental Kuat Jaga Momentum Pertumbuhan
- Mengapa Bank Bisa Kekurangan Uang Tunai? Memahami Short Liquidity, Liquidity Mismatch, dan Risiko Perbankan
- Pandu Sjahrir Evaluasi Portofolio Investasi, Danantara Indonesia Jadi Prioritas dan Supra Sekuritas Mulai Dilepas
Head of Group Marketing & Communications Bank DBS Indonesia, Mona Monika, menyampaikan bantahan tersebut kepada Republika, Kamis, (29/10/2026).
βIsu tersebut tidak benar adanya,β kata Mona Monika, Head of Group Marketing & Communications Bank DBS Indonesia.
Bantahan itu muncul setelah spekulasi menyebut DBS Indonesia akan dilebur ke dalam BCA, dengan BCA menjadi entitas yang bertahan setelah transaksi.
Rumor Merger DBS dan BCA Dikaitkan dengan Lonjakan Saham BBCA
Menurut pemberitaan The Straits Times, rumor tersebut juga menyebut pemegang saham DBS Indonesia akan menerima saham baru BCA sebagai kompensasi apabila penggabungan terlaksana.
Spekulasi itu dikaitkan dengan kenaikan saham BBCA sekitar 7 persen pada perdagangan Rabu, (28/10/2026), ketika harga sahamnya ditutup pada Rp5.275 per saham.
Namun, hubungan antara rumor merger dan lonjakan harga tersebut belum dapat dipastikan sebagai hubungan sebab-akibat.
- OJK Sanksi Mantan Direksi PT Bintang Oto Global Tbk, Begini Duduk Perkara Pencatatan Dana IPO Rp185,4 Miliar
- Rekam Jejak Lianiwati di Pasar Modal, Izin WPPE Berakhir 2020 dan Kini Dilarang Beraktivitas 10 Tahun
- Bank J Trust Bidik Pertumbuhan Mandiri pada 2027, Abdullah Firman Wibowo Disiapkan Menjadi Direktur Utama
Saham BBCA Terkoreksi Setelah DBS Menyampaikan Bantahan
Pergerakan saham BCA berbalik pada Kamis, (29/10/2026), dengan harga BBCA turun 4,27 persen atau 225 poin menjadi Rp5.050 per saham berdasarkan data pukul 11.59 WIB.
Koreksi tersebut terjadi setelah saham BCA ditutup pada Rp5.275 per saham sehari sebelumnya.
Perubahan harga saham tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa rumor merger menjadi penyebab penguatan maupun pelemahan BBCA.
Perbedaan Bisnis DBS Indonesia Dan BCA
PT Bank DBS Indonesia merupakan anak usaha DBS Group yang berbasis di Singapura, dengan layanan perbankan untuk nasabah korporasi, usaha kecil dan menengah, konsumen, serta pengelolaan kekayaan.
Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) merupakan bank swasta terbesar di Indonesia berdasarkan kapitalisasi pasar, dengan keluarga Hartono sebagai pemegang saham pengendali.
Kedua institusi tersebut memiliki kegiatan perbankan di Indonesia, tetapi rumor penggabungan keduanya belum menjadi aksi korporasi yang terkonfirmasi.
Rekam Jejak Pasar Menjadi Konteks Pergerakan BBCA
The Straits Times mencatat saham BCA sebelumnya termasuk saham yang dinilai menarik oleh pelaku pasar ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan pada awal 2026.
Saat itu, penyedia indeks global MSCI memperingatkan potensi penurunan status Indonesia dari pasar negara berkembang, sehingga perhatian investor terhadap prospek pasar saham domestik meningkat.
Kesimpulan: DBS telah membantah rumor penggabungan dengan BCA, sedangkan pergerakan BBCA menunjukkan volatilitas yang perlu dinilai berdasarkan informasi terverifikasi, bukan spekulasi semata.****












