Perekonomian Indonesia mencatatkan pertumbuhan kuat sebesar 5,47 persen (yoy) pada Triwulan III-2026. Capaian tersebut didukung oleh terjaganya permintaan domestik, menguatnya investasi, terjaganya kinerja ekspor, serta optimalisasi belanja pemerintah.
Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara menyampaikan bahwa APBN memiliki peran strategis dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional, terutama melalui penguatan daya beli masyarakat dan dukungan terhadap aktivitas dunia usaha.
“APBN berperan penting dalam menjaga daya beli masyarakat, mendukung aktivitas dunia usaha, dan meredam dampak tekanan eksternal. Pemerintah akan terus mengoptimalkan APBN untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi, didukung penguatan koordinasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan,” ungkap Menkeu.
Konsumsi rumah tangga tetap tumbuh resilien sebesar 5,04 persen (yoy), didukung meningkatnya pengeluaran restoran dan hotel sebesar 6,59 persen serta transportasi dan komunikasi sebesar 5,83 persen.
- Perluas Fleksibilitas DHE SDA dan Siapkan Go-Live Portal DSI, Pemerintah Pastikan Ekspor Tetap Lancar
- 3 Alternatif Penguatan Modal MNC Bank Disampaikan OJK, Hary Tanoesoedibjo Diminta Perhatikan Kepentingan Nasabah
- Transformasi Struktur Ekonomi Buka Peluang Baru, Pemerintah Perkuat Investasi dan Kesiapan Tenaga Kerja
Sementara itu, konsumsi pemerintah tumbuh 8,95 persen (yoy), terutama didorong peningkatan belanja barang sebesar 39,7 persen dan belanja pegawai sebesar 10,3 persen. Optimalisasi belanja negara diharapkan memberikan multiplier effect terhadap aktivitas produksi, penciptaan lapangan kerja, dan konsumsi masyarakat sehingga turut memperkuat pertumbuhan ekonomi.
Sementara itu, investasi yang tercermin dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh kuat sebesar 6,06 persen (yoy), didukung oleh terjaganya keyakinan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi nasional, stabilitas kondisi domestik, serta komitmen Pemerintah dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif. Penanaman modal asing meningkat 27,4 persen, sedangkan investasi bangunan dan kendaraan masing-masing tumbuh 6,39 persen dan 12,96 persen.
Ekspor barang dan jasa juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,59 persen. Kinerja tersebut ditopang ekspor komoditas CPO, batu bara, serta produk hilirisasi seperti nikel, tembaga, dan aluminium. Sementara itu, ekspor jasa tumbuh 1,39% (yoy), sejalan dengan meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara sebesar 3,89%. Di sisi lain, impor barang dan jasa tumbuh sebesar 7,31% (yoy), dengan impor barang riil meningkat 8,58% (yoy), mencerminkan terjaganya kebutuhan bahan baku, barang modal, dan barang konsumsi untuk mendukung aktivitas produksi, ekspansi industri, serta permintaan domestik.
Dari sisi produksi, industri pengolahan menjadi penggerak utama ekonomi dengan pertumbuhan 5,87 persen, didorong oleh subsektor strategis berbasis hilirisasi, terutama industri makanan dan minuman. Sektor Konstruksi tumbuh 6,42 persen (yoy) didukung pembangunan infrastruktur dan percepatan berbagai program prioritas Pemerintah seperti KDMP, perumahan, dan Sekolah Rakyat. Sektor Perdagangan tumbuh kuat sebesar 7,14 persen (yoy) dengan volume penjualan mobil penumpang dan sepeda motor yang masing-masing meningkat 25,95 persen dan 8,92 persen (yoy).
Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum tumbuh 11,2 persen (yoy), seiring lonjakan perjalanan wisatawan nusantara yang tumbuh sebesar 7,05 persen. Selain itu, sektor Informasi dan Komunikasi mencatat pertumbuhan 7,13% (yoy), didorong oleh peningkatan penggunaan layanan telekomunikasi, trafik data, dan transaksi perdagangan elektronik.
Di sisi lain, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan hanya tumbuh 0,46 persen akibat musim kering berkepanjangan yang dipengaruhi fenomena El Nino. Sementara, sektor Pertambangan dan penggalian mampu kembali tumbuh positif 0,91 persen (yoy), didorong oleh pertambangan bijih logam yang tumbuh 2,96 persen terkait dengan kembali beroperasinya tambang mineral logam di Papua dan Nusa Tenggara.
Secara spasial, pertumbuhan ekonomi berlangsung merata di seluruh wilayah Indonesia, mencerminkan kuatnya daya tahan ekonomi nasional di tengah dinamika global. Pertumbuhan ekonomi tertinggi tercatat di Bali dan Nusa Tenggara sebesar 6,08 persen (yoy). Sebagai kontributor terbesar perekonomian nasional, Jawa tumbuh 5,84 persen ditopang kuatnya aktivitas manufaktur dan jasa, Sulawesi 5,68 persen, Sumatera 4,95 persen, Maluku dan Papua 4,42 persen, serta Kalimantan 3,96 persen.
Pertumbuhan ekonomi tersebut turut diikuti perbaikan kondisi ketenagakerjaan. Lapangan kerja bertambah sebanyak 1,4 juta orang dibandingkan Agustus 2025. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja pada Agustus 2026 tercatat 70,33 persen. Jumlah pengangguran juga berkurang 77 ribu orang menjadi 7,38 juta orang. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 4,75 persen dari 4,85 persen pada Agustus 2025. Sektor pertanian menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan proporsi 28,20 persen, disusul perdagangan sebesar 17,86 persen dan industri sebesar 13,75 persen. (KLI/dj/al)
Sumber: kemenkeu.go.id












