Perubahan teknologi, perkembangan kecerdasan artifisial (AI), dan dinamika geopolitik turut mengubah struktur perekonomian serta kebutuhan dunia kerja. Perubahan tersebut tentu menghadirkan tantangan bagi sejumlah sektor usaha, namun sekaligus juga membuka peluang pertumbuhan di bidang-bidang baru. Karena itu, transformasi ekonomi perlu diikuti dengan kesiapan sumber daya manusia dan penciptaan lapangan kerja yang mampu memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
“Daya beli masyarakat itu tidak melemah, hanya bergeser. Perekonomian kita itu sekarang bertransformasi. Beberapa sektor usaha industri yang tradisional, yang belum menjadi tulang punggung penyerapan lapangan kerja, itu drop, tapi bergeser ke tempat lain. Rupanya memang terjadi pergeseran konsumsi dan pergeseran pola belanja dari rumah tangga. Ini perlu dipahami oleh para pelaku usaha, dan kemudian mereka juga harus bertransformasi,” ungkap Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo pada program CNBC Indonesia Power Lunch, Jumat (6/11).
Wamenko Dradjad menjelaskan bahwa perubahan pola konsumsi turut memengaruhi perkembangan berbagai sektor usaha. Sejumlah sektor industri tradisional, seperti tekstil, produk tekstil, dan alas kaki, menghadapi tekanan. Sementara itu, sektor telekomunikasi, transportasi, serta hotel dan restoran menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi. Pergeseran tersebut menjadi bagian dari transformasi ekonomi yang perlu diantisipasi, baik oleh Pemerintah maupun pelaku usaha.
Di tengah perubahan tersebut, aktivitas industri pengolahan nasional secara umum masih menunjukkan kinerja ekspansif. Hal ini tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Oktober 2026 yang mencapai 53,77 atau meningkat dibandingkan September 2026 sebesar 51,93. Capaian tersebut menunjukkan bahwa meskipun sejumlah subsektor menghadapi tekanan, aktivitas industri pengolahan secara keseluruhan masih berada dalam fase ekspansi. Dengan demikian, penguatan sektor industri tetap menjadi bagian penting dalam upaya memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan nilai tambah perekonomian.
Di sisi lain, kelas menengah dan kelompok menuju kelas menengah itu mencakup 66,35% penduduk dan berkontribusi terhadap 81,49% konsumsi rumah tangga. Besarnya kontribusi kelompok ini terhadap konsumsi nasional menjadikan keberlanjutan pekerjaan dan sumber penghasilan mereka sebagai hal penting yang perlu diperhatikan Pemerintah, terutama di tengah perubahan struktur lapangan kerja.
“Dari 2024 itu, sekarang juga turun ya kelas menengah. Ini memang menjadi PR kita, bagaimana menyediakan pekerjaan yang layak bagi mereka. Tapi juga ada PR dari sisi pencatatan statistik karena sebagian dari yang bergeser tadi itu bekerjanya lebih ke pekerjaan yang bukan formal,” imbuh Wamenko Dradjad.
Untuk menjawab tantangan tersebut, penciptaan lapangan kerja berkualitas menjadi salah satu perhatian utama Pemerintah. Dalam dua tahun pemerintahan, realisasi investasi mencapai Rp3.923,2 triliun dan menyerap sekitar 5,49 juta tenaga kerja, dengan sekitar 51,8% penyerapan berada di luar Pulau Jawa. Investasi dan hilirisasi diharapkan terus memperkuat basis industri, meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, serta membuka kesempatan kerja di berbagai daerah.
Lebih lanjut, Wamenko Dradjad menambahkan bahwa perubahan struktur ekonomi perlu diimbangi dengan peningkatan keterampilan tenaga kerja agar masyarakat dapat mengakses peluang kerja yang berkembang. Untuk itu, pemerintah menyiapkan program magang bagi 150 ribu peserta dan pendidikan vokasi hingga 300 ribu peserta pada 2027. Pemerintah juga memberikan dukungan melalui kebijakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 Ditanggung Pemerintah (DTP) bagi pekerja dengan gaji di bawah Rp10 juta yang akan diperluas ke seluruh sektor pada 2027, serta diskon 50% iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM). Berbagai langkah tersebut diharapkan membantu masyarakat menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja sekaligus menjaga daya beli rumah tangga.
Selain industri dan hilirisasi, sektor pariwisata dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi sumber lapangan kerja formal baru. Namun, pengembangannya perlu didukung peningkatan keterampilan, inovasi, serta penciptaan produk wisata yang memiliki daya tarik dan karakter tersendiri. Pengalaman sejumlah destinasi yang dikembangkan melalui desain kreatif, pengemasan produk, dan promosi menunjukkan bahwa daya tarik pariwisata tidak hanya bergantung pada kekayaan alam, tetapi juga kemampuan menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi pengunjung. Penguatan sektor ini juga dapat membuka peluang bagi tenaga kerja dan pelaku ekonomi kreatif.
Di sisi lain, perkembangan ekonomi digital, AI, dan pusat data perlu dipandang sebagai bagian dari sumber pertumbuhan ekonomi ke depan. Wamenko Dradjad menekankan pentingnya kesiapan daerah dalam menangkap peluang tersebut, termasuk dengan memperhatikan kebutuhan energi dan air serta menyiapkan solusi teknologi agar pengembangannya tidak mengganggu kebutuhan masyarakat. Pengembangan pusat data dan ekosistem digital di berbagai wilayah juga diharapkan mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi baru, meningkatkan kebutuhan tenaga profesional, serta memperluas kesempatan kerja bagi generasi muda.
- Pendanaan Korporasi Tembus Rp209,77 Triliun, OJK Jaga Intermediasi untuk Dukung Pertumbuhan Ekonomi
- Anthoni Salim dan Risiko Karhutla, Ini Komitmen Emiten Sawit Grup Salim dalam Pencegahan Kebakaran Lahan
- Kementerian Keuangan Bidik Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,5 Persen pada 2026, Ini Strategi Suahasil Nazara
Dengan Demikian, transformasi ekonomi perlu direspons melalui sinergi kebijakan yang mendorong investasi, memperkuat hilirisasi, meningkatkan kualitas tenaga kerja, dan mengembangkan sektor-sektor potensial seperti pariwisata serta ekonomi digital. Pemerintah juga terus mendorong pelaku usaha untuk beradaptasi dengan perubahan pola konsumsi dan perkembangan teknologi. Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat daya saing perekonomian sekaligus memastikan semakin banyak masyarakat memperoleh kesempatan untuk bekerja, meningkatkan pendapatan, dan naik kelas. (map/iqb/tam)
Sumber: ekon.go.id












