Smelter Membludak, Produknya Masih Setengah Jadi: Pemerintah Siapkan Kajian

Avatar photo

Selasa, 3 November 2026 - 12:00 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
+ Apresiasi

Smelter terus bermunculan di berbagai daerah, tetapi sebagian besar produknya masih berhenti di tengah jalan sebagai bahan setengah jadi. Pemerintah kini mengkaji apakah pembangunan smelter yang hanya menghasilkan produk antara masih perlu dilanjutkan, atau diarahkan hingga ke produk akhir.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi/Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengakui, mayoritas produk industri hilirisasi saat ini baru berada di tahap tengah.

“Tetapi jujur saya katakan kepada teman-teman pengusaha, industri hilirisasi kita sekarang masih mayoritas produknya itu baru di tengah, baru di 60-50%. Dan ini membludak sekarang,” kata Bahlil saat membuka Mineral dan Batubara Convention – Expo (Minerba Convex) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Senin (2/11).

Karena itu, Bahlil meminta dilakukan kajian. Pemerintah ingin menimbang apakah smelter yang produknya hanya setengah jadi masih memungkinkan dibangun, atau perlu diatur lebih lanjut.

“Yang perlu kita dorong adalah produk akhirnya, supaya bahan baku setengah jadi tidak semuanya diekspor ke luar. Jadi Indonesia ini benar-benar mendapatkan manfaatnya secara utuh. Ini yang sekarang kita lagi mau kaji,” ujarnya.

Arah ini berangkat dari pengalaman hilirisasi nikel. Bahlil menuturkan, pada 2017-2019 nilai ekspor nikel Indonesia hanya sekitar 3,3 miliar dolar AS. Setelah pemerintah menyetop ekspor nikel dan membangun industri pengolahan di dalam negeri, nilai ekspornya melonjak menjadi sekitar 34 miliar dolar AS.

Menurut Bahlil, kunci keberhasilan itu adalah konsistensi kebijakan. Ia mencontohkan ekosistem baterai kendaraan listrik yang kini terintegrasi dari tambang, smelter, prekursor, katoda, hingga baterai.

Bahlil menyebut gagasan tersebut sempat diragukan saat ia sampaikan pada 2020. Kini, Amerika Serikat sudah mendapatkan bahan baku prekursor dan katoda dari Indonesia. Indonesia juga telah memiliki tiga pabrik baterai, termasuk pabrik di Karawang yang diresmikan pada 2024.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Tri Winarno dalam laporannya juga menyebut, langkah berikutnya adalah memperdalam rantai industri menuju produk dengan nilai tambah yang semakin tinggi, termasuk bahan antara dan komponen untuk industri baterai.

Kajian ini menjadi penanda arah hilirisasi tahap berikutnya. Pemerintah ingin memastikan mineral yang diolah di dalam negeri tidak berhenti sebagai bahan setengah jadi, tetapi berlanjut menjadi produk akhir yang memberi nilai tambah lebih besar bagi Indonesia. (SF)


Sumber: esdm.go.id

Berita Terkait

Kementerian ESDM Serahkan 137 Hektare Lahan Eks Tambang kepada Kemhan untuk Dukung Kopassus
Kementerian ESDM Raih Peringkat Kedua Anugerah Reksa Bandha 2026
Tutup Minerba Convex 2026, Ditjen Minerba Beri 42 Apresiasi untuk Badan Usaha dan Tim ESDM Siaga Bencana
Raksasa Pengelola Dana Investasi Triliunan Dolar AS Akan Berkumpul di New Asia Forum 2026
Cancel Culture dan RANS Carnival, Bagaimana Tekanan Media Sosial Mengubah Keputusan Musisi untuk Mundur?
Perkuat Ketahanan Energi, Pemerintah Siapkan Storage Minyak hingga 60 Hari dan Bioetanol E20
HBA November Turun Tipis, Harga Batu Bara Kalori Rendah Justru Naik
Pasokan Nikel Berlebih, Bahlil Siapkan Pengetatan RKAB untuk Jaga Harga

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 16:31 WIB

Kementerian ESDM Serahkan 137 Hektare Lahan Eks Tambang kepada Kemhan untuk Dukung Kopassus

Kamis, 5 November 2026 - 12:00 WIB

Kementerian ESDM Raih Peringkat Kedua Anugerah Reksa Bandha 2026

Kamis, 5 November 2026 - 12:00 WIB

Tutup Minerba Convex 2026, Ditjen Minerba Beri 42 Apresiasi untuk Badan Usaha dan Tim ESDM Siaga Bencana

Selasa, 3 November 2026 - 19:52 WIB

Raksasa Pengelola Dana Investasi Triliunan Dolar AS Akan Berkumpul di New Asia Forum 2026

Selasa, 3 November 2026 - 19:28 WIB

Cancel Culture dan RANS Carnival, Bagaimana Tekanan Media Sosial Mengubah Keputusan Musisi untuk Mundur?

Berita Terbaru

Chat via WhatsApp