George Yeo Tambah Kepemilikan Saham Wilmar di Tengah Investigasi Karhutla, Ini Fakta Transaksi dan Regulasi Baru

Avatar photo

Sabtu, 7 November 2026 - 07:10 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
+ Apresiasi

Direktur Independen Wilmar International George Yeo yang juga mantan Menteri Luar Negeri Singapura membeli 100.000 saham Wilmar, sementara korporasi agribisnis tersebut menghadapi pemeriksaan hubungan bisnis dan konsesi lahan di Indonesia. (Dok. Kreasi Dola AI)

Direktur Independen Wilmar International George Yeo yang juga mantan Menteri Luar Negeri Singapura membeli 100.000 saham Wilmar, sementara korporasi agribisnis tersebut menghadapi pemeriksaan hubungan bisnis dan konsesi lahan di Indonesia. (Dok. Kreasi Dola AI)

HARIANINDONEISARAYA.COM – Seberapa besar ancaman regulasi baru Singapura terhadap korporasi agribisnis yang memiliki konsesi kelapa sawit di Indonesia?

Mengapa Wilmar International diminta membuka dokumen hubungan korporasi dan rantai pasokannya?

Apakah penguatan undang-undang kabut asap akan mengubah tanggung jawab korporasi lintas negara?

Wilmar Masuk Pemeriksaan di Tengah Pengetatan Regulasi Kabut Asap Singapura

Wilmar International menjadi salah satu dari 10 korporasi terdaftar di Singapura yang menerima pemberitahuan investigasi dari National Environment Agency (NEA) pada Jumat, (23/10/2026).

Pemberitahuan tersebut meminta informasi mengenai hubungan korporasi, konsesi lahan di Indonesia, serta upaya pencegahan dan pemadaman kebakaran hutan dan lahan.

Langkah tersebut dilakukan ketika kabut asap lintas batas memburuk dan berdampak terhadap Singapura serta Malaysia.

Wilmar menjadi perhatian karena memiliki konsesi kelapa sawit di Indonesia dan hubungan bisnis dengan sejumlah korporasi yang masuk dalam daftar pemeriksaan NEA.

Control Risks Ditunjuk Untuk Menilai Keterkaitan Wilmar dengan Karhutla

Pada Senin, (2/11/2026), Wilmar mengumumkan telah menerima penunjukan Control Risks Group oleh NEA sebagai pihak yang melakukan penilaian independen.

Penilaian tersebut bertujuan mengevaluasi apakah Wilmar memiliki keterlibatan atau hubungan dengan kebakaran di Indonesia yang berkontribusi terhadap kabut asap di Singapura dan Malaysia.

Dentons Rodyk & Davidson ditunjuk sebagai penasihat hukum bagi pihak penilai dalam proses tersebut.

Wilmar menyatakan akan bekerja sama secara sukarela dengan membiayai proses penilaian dan menyediakan akses terhadap informasi, dokumen, personel, lokasi, serta situs operasional yang relevan.

Dokumen Tahap Pertama Sudah Diserahkan kepada Otoritas Singapura

Wilmar juga menyatakan telah menyerahkan dokumen dan informasi tahap pertama kepada NEA sebagai tanggapan atas pemberitahuan yang diterima pada Jumat, (23/10/2026).

Permintaan informasi tersebut didasarkan pada Transboundary Haze Pollution Act, undang-undang Singapura yang mengatur pencemaran kabut asap lintas batas.

Perkembangan ini memperlihatkan bahwa pemeriksaan tidak hanya menyasar aktivitas pembakaran, tetapi juga hubungan korporasi, kepemilikan lahan, dan rantai pasokan.

Parlemen Singapura Naikkan Denda Maksimum Menjadi S$20 Juta

Pada Rabu, (4/11/2026), Parlemen Singapura mengesahkan amendemen Transboundary Haze Pollution Act untuk memperkuat kemampuan pemerintah menginvestigasi dan menindak pihak yang bertanggung jawab atas pencemaran kabut asap.

Salah satu perubahan penting adalah peningkatan denda maksimum pelanggaran utama dari S$2 juta menjadi S$20 juta.

Aturan baru juga memungkinkan pemerintah membatasi transaksi bisnis dengan pihak yang telah ditetapkan, termasuk pembelian barang, jasa, pemberian pinjaman, dan dukungan keuangan.

Selain itu, NEA memperoleh jalur pengajuan sanksi perdata dengan nilai maksimum S$10 juta melalui mekanisme pengadilan dan persetujuan jaksa penuntut umum.

Pembelian Saham George Yeo Berlangsung Saat Pemeriksaan Berjalan

Di tengah perkembangan tersebut, mantan Menteri Luar Negeri Singapura sekaligus Direktur Independen Wilmar, George Yeo, membeli 100.000 saham pada Rabu, (4/11/2026).

Transaksi dilakukan melalui pasar terbuka dengan harga S$2,97 per lembar, sehingga kepemilikannya meningkat menjadi lebih dari 1 juta saham.

Sementara itu, harga saham Wilmar telah terkoreksi lebih dari 14% dalam sebulan terakhir.

Penguatan regulasi Singapura membuat investigasi kabut asap memasuki tahap lebih serius, dengan transparansi hubungan bisnis dan tanggung jawab rantai pasokan menjadi bagian penting pemeriksaan.***

Berita Terkait

Mengapa Investasi Harus Tumbuh 7 Persen pada 2027? Ini Strategi Menkeu Suahasil Nazara dan Pemerintah
Peluang IPO Waralaba Lokal Terbuka, Kementerian UMKM Tekankan Tata Kelola dan Fundamental Bisnis
Sambut Libur Natal dan Tahun Baru, Pemerintah Luncurkan Stimulus Diskon Transportasi
IHSG Terkoreksi 0,13 Persen, Kapitalisasi Pasar Bursa Efek Indonesia Menyusut Rp118 Triliun dalam Sepekan
OJK Ungkap Kredit Perbankan Tumbuh 13,26 Persen, Kredit Korporasi Melaju 21,31 Persen pada September 2026
Ekonomi Tumbuh 5,47 Persen, BPS dan Indef Ungkap Perbedaan Pertumbuhan Ekonomi dan Kesejahteraan
BEI Desak 12 Emiten Buyback Saham Sebelum Delisting, Kepemilikan Investor Publik Jadi Perhatian
Terima Rais (Kepala) Republik Tatarstan Federasi Rusia, Menko Airlangga Dorong Penguatan Investasi dan Kerja Sama Industri Indonesia-Tatarstan

Berita Terkait

Minggu, 8 November 2026 - 19:13 WIB

Mengapa Investasi Harus Tumbuh 7 Persen pada 2027? Ini Strategi Menkeu Suahasil Nazara dan Pemerintah

Minggu, 8 November 2026 - 11:57 WIB

Peluang IPO Waralaba Lokal Terbuka, Kementerian UMKM Tekankan Tata Kelola dan Fundamental Bisnis

Minggu, 8 November 2026 - 08:57 WIB

IHSG Terkoreksi 0,13 Persen, Kapitalisasi Pasar Bursa Efek Indonesia Menyusut Rp118 Triliun dalam Sepekan

Minggu, 8 November 2026 - 07:46 WIB

OJK Ungkap Kredit Perbankan Tumbuh 13,26 Persen, Kredit Korporasi Melaju 21,31 Persen pada September 2026

Sabtu, 7 November 2026 - 08:03 WIB

Ekonomi Tumbuh 5,47 Persen, BPS dan Indef Ungkap Perbedaan Pertumbuhan Ekonomi dan Kesejahteraan

Berita Terbaru

Chat via WhatsApp