HARIANINDONESIARAYA.COM- Mengapa korporasi menjadi kelompok debitur dengan pertumbuhan kredit paling tinggi di tengah perlambatan penyaluran pembiayaan perbankan Indonesia pada September 2026?
Apakah pertumbuhan kredit korporasi yang mencapai 21,31% menunjukkan kuatnya kebutuhan ekspansi investasi, sementara pembiayaan UMKM masih bergerak lebih lambat?
Bagaimana kesenjangan pertumbuhan kredit antara korporasi dan UMKM memengaruhi arah intermediasi perbankan, ketika total penyaluran kredit telah mencapai Rp9.245 triliun?
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kredit korporasi tumbuh 21,31% secara tahunan pada September 2026, menjadi kelompok debitur dengan pertumbuhan pembiayaan tertinggi di industri perbankan.
Angka tersebut jauh melampaui pertumbuhan kredit perbankan secara keseluruhan yang mencapai 13,26% menjadi Rp9.245 triliun.
Sebaliknya, kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) hanya tumbuh 2,68%, meskipun meningkat dibandingkan Agustus 2026 sebesar 2,32%.
Kondisi ini memperlihatkan perbedaan kecepatan ekspansi pembiayaan antara korporasi berskala besar dan pelaku usaha UMKM.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan data tersebut dalam konferensi pers RDKB Oktober 2026, Kamis (5/11/2026).
Kredit Korporasi Menjadi Penopang Utama Pertumbuhan Pembiayaan Perbankan Indonesia
Dian menyatakan, “Berdasarkan kategori debitur, kredit dengan pertumbuhan tertinggi adalah kredit korporasi yang tumbuh sebesar 21,31% secara tahunan.”
Pertumbuhan tersebut menunjukkan pembiayaan kepada korporasi berkembang lebih cepat dibandingkan kelompok debitur lainnya.
- Ekonomi Tumbuh 5,47 Persen, BPS dan Indef Ungkap Perbedaan Pertumbuhan Ekonomi dan Kesejahteraan
- George Yeo Tambah Kepemilikan Saham Wilmar di Tengah Investigasi Karhutla, Ini Fakta Transaksi dan Regulasi Baru
- BEI Desak 12 Emiten Buyback Saham Sebelum Delisting, Kepemilikan Investor Publik Jadi Perhatian
Secara keseluruhan, kredit perbankan tumbuh 13,26%, melambat dari 13,65% pada Agustus 2026.
Kredit Investasi Tumbuh 23,20 Persen, Melampaui Kredit Modal Kerja Dan Konsumsi
Dari sisi penggunaan, kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 23,20% secara tahunan.
Kredit modal kerja meningkat 11,89%, sedangkan kredit konsumsi hanya tumbuh 4,86%.
Komposisi tersebut memperlihatkan pembiayaan investasi menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan kredit perbankan.
Kredit UMKM Mulai Meningkat, Tetapi Pertumbuhannya Masih Tertinggal dari Korporasi
Kredit UMKM mencatat pertumbuhan 2,68% pada September 2026, meningkat dari 2,32% pada bulan sebelumnya.
Meski membaik, pertumbuhannya masih terpaut jauh dari kredit korporasi yang mencapai 21,31%.
- Terima Rais (Kepala) Republik Tatarstan Federasi Rusia, Menko Airlangga Dorong Penguatan Investasi dan Kerja Sama Industri Indonesia-Tatarstan
- Hadiri Pelatihan Bela Negara Mahasiswa PKN STAN, Wamenkeu Nurkholisoh Titipkan Pesan Ini
- Kuatnya Ekonomi Indonesia Triwulan III-2026 Diikuti Perbaikan Ketenagakerjaan
Perbedaan tersebut menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam menilai pemerataan penyaluran pembiayaan kepada berbagai kelompok usaha.
Bank Swasta Nasional Unggul, Kredit Bank BUMN Tumbuh 14,78 Persen
Berdasarkan kelompok bank, kredit bank umum swasta nasional tumbuh 16,9% secara tahunan.
Sementara itu, kredit bank BUMN meningkat 14,78%.
Kedua kelompok bank tersebut mencatat pertumbuhan di atas laju kredit UMKM, meskipun data OJK menunjukkan pertumbuhan berdasarkan kelompok kepemilikan bank tidak secara langsung menggambarkan distribusi kredit berdasarkan skala usaha.
Likuiditas dan Permodalan Bank Menjadi Penyangga Ekspansi Kredit
DPK perbankan tumbuh 8,22% menjadi Rp10.492 triliun, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kredit sebesar 13,26%.
Giro tumbuh 12,64%, tabungan 9,08%, dan deposito 3,78%.
Di sisi lain, likuiditas tetap memadai dengan AL/NCD 105,7% dan AL/DPK 24,1%, sementara CAR mencapai 24,30%.
NPL bruto tercatat 2,07% dan NPL neto 0,82%, sedangkan ROA stabil sebesar 2,43%.
Penutup: Tantangan berikutnya adalah menjaga momentum pembiayaan korporasi sekaligus memperluas akses kredit UMKM agar pertumbuhan intermediasi perbankan lebih merata.****












