Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi, Menko Airlangga Perkuat Kinerja Ekspor

Avatar photo

Rabu, 14 Oktober 2026 - 16:00 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
+ Apresiasi

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, terus memperkuat strategi peningkatan ekspor di tengah dinamika perdagangan global yang semakin kompleks. Hal ini dilakukan pada optimalisasi potensi pasar utama dan ekspor komoditas bernilai tambah.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa langkah ini merupakan tindak lanjut dari evaluasi perkembangan neraca perdagangan nasional. Di tengah ketidakpastian geopolitik global, kinerja neraca perdagangan Indonesia menunjukkan tren pemulihan dengan mencatat surplus kumulatif pada periode Januari-Agustus 2026 sebesar USD 7,25 miliar.

Meskipun sempat mengalami defisit pada Mei (-USD1,61 miliar) dan Juni 2026 (-USD0,45 miliar), neraca perdagangan Indonesia kembali positif pada Juli dan Agustus 2026 dengan surplus masing-masing sebesar USD0,12 miliar dan USD3,55 miliar.

“Pemerintah memandang perkembangan ini perlu direspon melalui penguatan strategi ekspor berbasis komoditas dan pasar. Pendekatan ini dilakukan dengan mengidentifikasi komoditas berkapasitas ekspor tinggi, memetakan kesenjangan antara ekspor Indonesia dengan kebutuhan impor negara mitra, serta mengurai hambatan yang dihadapi pelaku usaha,” ungkap Menko Airlangga.

Lebih lanjut, Menko Airlangga menjelaskan hasil pemetaan menunjukkan adanya ruang ekspansi yang besar untuk meningkatkan ekspor Indonesia. Hal ini terlihat dari export gap (selisih antara nilai ekspor saat ini dengan nilai potensi ekspor maksimal) di sejumlah pasar utama. Sebagaimana diketahui, berdasarkan data tahun 2025 pasar ekspor utama Indonesia terkonsentrasi di Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Amerika Serikat, Jepang, dan India.

Di RRT, terdapat export gap sebesar USD31 miliar terutama berasal dari komoditas mineral dan logam beserta produknya, sumber daya mineral, mesin dan peralatan elektronik, kayu/kertas/karet/plastik, serta produk kimia. Sementara itu, di Amerika Serikat terdapat potensi export gap senilai USD14 miliar, antara lain pada kendaraan, mineral dan logam, mesin dan peralatan elektronik, kayu/kertas/karet/plastik, serta produk kimia.

Potensi serupa juga teridentifikasi di Jepang dengan export gap USD5,5 miliar dengan peluang utama pada produk mineral dan logam, produk hasil laut, produk nabati, serta bahan kimia. Sementara itu, di India terdapat export gap USD10 miliar berasal dari mineral dan logam, bahan kimia, mesin dan elektronik, serta produk nabati.

“Pemetaan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan ekspor tidak hanya perlu dilakukan melalui pencarian pasar baru, tetapi juga dengan memperdalam pasar yang selama ini telah menjadi tujuan ekspor Indonesia,” tutur Menko Airlangga.

Untuk merealisasikan potensi tersebut, Pemerintah akan mendorong penguatan ekspor melalui pendekatan berbasis komoditas. Strategi ini mempertemukan potensi produksi domestik dan kebutuhan spesifik negara tujuan, mencakup sektor pertambangan, pertanian dan perkebunan, perikanan, dan manufaktur. Pengembangan produk elektronik dan teknologi serta produk telekomunikasi juga menjadi bagian dari pemetaan potensi ekspor.

Sebagai langkah dukungan konkret, Pemerintah terus memperkuat koordinasi lintas Kementerian/Lembaga bersama pelaku usaha guna mengurai berbagai hambatan ekspor, mulai dari regulasi, standarisasi persyaratan pasar, hingga kendala teknis di lapangan.

“Dengan pendekatan tersebut, optimalisasi pasar utama diharapkan tidak hanya dilakukan melalui peningkatan nilai ekspor secara agregat, tetapi juga melalui penguatan ekspor produk bernilai tambah dan diversifikasi komoditas, sehingga peluang pasar yang masih terbuka dapat dikonversi menjadi ekspor Indonesia yang lebih konkret,” tandas Menko Airlangga. (dep3/rep/iqb/tam)


Sumber: ekon.go.id

Berita Terkait

Terima Rais (Kepala) Republik Tatarstan Federasi Rusia, Menko Airlangga Dorong Penguatan Investasi dan Kerja Sama Industri Indonesia-Tatarstan
Hadiri Pelatihan Bela Negara Mahasiswa PKN STAN, Wamenkeu Nurkholisoh Titipkan Pesan Ini
Kuatnya Ekonomi Indonesia Triwulan III-2026 Diikuti Perbaikan Ketenagakerjaan
Perluas Fleksibilitas DHE SDA dan Siapkan Go-Live Portal DSI, Pemerintah Pastikan Ekspor Tetap Lancar
3 Alternatif Penguatan Modal MNC Bank Disampaikan OJK, Hary Tanoesoedibjo Diminta Perhatikan Kepentingan Nasabah
Transformasi Struktur Ekonomi Buka Peluang Baru, Pemerintah Perkuat Investasi dan Kesiapan Tenaga Kerja
Cadangan Devisa Oktober 2026 Tetap Terjaga
Menkeu Suahasil Nazara: Investasi Perlu Tumbuh 7% untuk Dukung Target Pertumbuhan Ekonomi 6% pada 2027

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 20:42 WIB

Terima Rais (Kepala) Republik Tatarstan Federasi Rusia, Menko Airlangga Dorong Penguatan Investasi dan Kerja Sama Industri Indonesia-Tatarstan

Jumat, 6 November 2026 - 19:55 WIB

Hadiri Pelatihan Bela Negara Mahasiswa PKN STAN, Wamenkeu Nurkholisoh Titipkan Pesan Ini

Jumat, 6 November 2026 - 19:20 WIB

Kuatnya Ekonomi Indonesia Triwulan III-2026 Diikuti Perbaikan Ketenagakerjaan

Jumat, 6 November 2026 - 18:59 WIB

Perluas Fleksibilitas DHE SDA dan Siapkan Go-Live Portal DSI, Pemerintah Pastikan Ekspor Tetap Lancar

Jumat, 6 November 2026 - 17:08 WIB

3 Alternatif Penguatan Modal MNC Bank Disampaikan OJK, Hary Tanoesoedibjo Diminta Perhatikan Kepentingan Nasabah

Berita Terbaru

Chat via WhatsApp