Fundamental ekonomi Indonesia diyakini tetap kuat sampai akhir tahun 2026 nanti. Ekonomi tumbuh 5,45% (c-t-c) pada Semester I-2026, dan inflasi tercatat sebesar 3,28% (yoy), PMI Manufaktur 52,4, sementara neraca perdagangan surplus USD7,25 miliar (Januari-Agustus 2026). Kondisi ini sebetulnya didukung oleh konsumsi rumah tangga yang masih tetap baik pada periode Semester I-2026.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo, dalam Konferensi Pers usai Pertemuan dengan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), di Jakarta, Senin (12/10), juga menyatakan bahwa daya beli di Indonesia tetap kuat, terutama terlihat dari tetap tingginya pertumbuhan di sektor transportasi dan pariwisata.
Kondisi itu terlihat juga dari peningkatan signifikan dari jumlah transaksi pembayaran elektronik menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang sampai di atas 100%. Apabila jumlah transaksi dengan QRIS meningkat drastis, tentunya itu menunjukkan banyaknya konsumsi yang terjadi.
“Sebenarnya yang terjadi adalah pergeseran pola konsumsi masyarakat yang sangat signifikan, termasuk di dalamnya adalah konsumsi di marketplace atau (belanja) online. Nah, pergeseran konsumsi ini tertangkap oleh BPS, sehingga kami dari Pemerintah meyakini bahwa memang daya beli masyarakat itu terjaga sangat bagus,” tutur Wamenko Dradjad.
- Terima Rais (Kepala) Republik Tatarstan Federasi Rusia, Menko Airlangga Dorong Penguatan Investasi dan Kerja Sama Industri Indonesia-Tatarstan
- Hadiri Pelatihan Bela Negara Mahasiswa PKN STAN, Wamenkeu Nurkholisoh Titipkan Pesan Ini
- Kuatnya Ekonomi Indonesia Triwulan III-2026 Diikuti Perbaikan Ketenagakerjaan
Lebih lanjut, Wamenko Dradjad menerangkan bahwa perekonomian daerah-daerah dengan basis industri pengolahan yang kuat ternyata terbukti mampu tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.
“Jadi daerah-daerah yang basis industri pengolahannya kuat, kawasan industrinya bagus, itu tumbuhnya juga sangat-sangat bagus. Hal ini menjadi basis bagi Kemenko Perekonomian untuk pembuatan kebijakan-kebijakan ke depan. Selain itu, untuk menjaga pertumbuhan ke depan, persoalan net export juga perlu diperhatikan,” kata Wamenko Dradjad.
Persoalan inflasi tentunya jangan dilupakan, apalagi karakteristik inflasi di Indonesia cenderung berbeda dengan negara lain, yaitu memiliki karakter sebagai cost-push inflation atau inflasi yang didorong oleh faktor biaya atau suplai.
“Jadi, bukan inflasi yang banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari demand. Artinya apa? Pengendalian inflasi itu bisa dilakukan dengan mendorong supply. Jadi mungkin teman-teman akan berpikir daya beli bagus tapi ternyata inflasinya cost-push, itu karena walaupun daya beli bagus, tapi supply-nya tidak cukup, ya otomatis akhirnya terjadi inflasi,” ucap Wamenko Dradjad.
Selain itu, Wamenko Dradjad juga mendorong pembentukan kebijakan yang berlandaskan data, sehingga data dari BPS dapat dicek setiap kuartalnya, supaya Kemenko Perekonomian dapat memformulasikan kebijakan atau program sesuai dengan kondisi yang terpampang pada data tersebut.
“Kami berharap juga agar hal-hal yang mungkin belum tertangkap oleh BPS (saat ini) dapat terpantau ke depannya, karena BPS ini kan yang bagian memfoto dan mencatat. Dari sana, kami bisa membuat kebijakan yang tepat dan perlu juga dikombinasikan antar instansi pemerintahan terkait. Nanti tentu kami akan ajak Ibu Kepala BPS untuk keliling ke K/L terkait lainnya untuk sharing data,” tutup Wamenko Dradjad.
- Perluas Fleksibilitas DHE SDA dan Siapkan Go-Live Portal DSI, Pemerintah Pastikan Ekspor Tetap Lancar
- 3 Alternatif Penguatan Modal MNC Bank Disampaikan OJK, Hary Tanoesoedibjo Diminta Perhatikan Kepentingan Nasabah
- Transformasi Struktur Ekonomi Buka Peluang Baru, Pemerintah Perkuat Investasi dan Kesiapan Tenaga Kerja
Turut hadir pada kesempatan ini yaitu di antaranya Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kemenko Perekonomian Edi Prio Pambudi, Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh. Edy Mahmud, Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini, Deputi Bidang Statistik Sosial BPS Nashrul Wajdi, Sekretaris Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kemenko Perekonomian M. Saipullah, dan Direktur Analisis Statistik dan Neraca Satelit BPS Etjih Tasriah. (rep/fln/tam)
Sumber: ekon.go.id












