Kurs Rupiah Mendekati Rp18.200 per Dolar AS, Respons Airlangga Hartarto dan Tantangan Ekonomi Indonesia

Avatar photo

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:54 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
+ Apresiasi

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto merespons pelemahan Kurs Rupiah di tengah ketidakpastian global, kenaikan harga minyak, dan ekspektasi suku bunga Amerika Serikat. (Dok. Kreasi Dola AI)

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto merespons pelemahan Kurs Rupiah di tengah ketidakpastian global, kenaikan harga minyak, dan ekspektasi suku bunga Amerika Serikat. (Dok. Kreasi Dola AI)

HARIANINDONESIARAYA.COM – Apa yang membuat rupiah terus tertekan ketika ketidakpastian global meningkat dan investor semakin selektif menempatkan modal di pasar negara berkembang?

Mengapa kenaikan harga minyak dunia dan ekspektasi suku bunga Amerika Serikat dapat memperburuk tekanan terhadap nilai tukar rupiah sekaligus meningkatkan risiko fiskal Indonesia?

Seberapa besar kekhawatiran terhadap klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI memengaruhi sentimen investor ketika rupiah bergerak mendekati Rp18.200 per Dolar AS?

Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke Rp18.184 per Dolar AS pada Rabu, (28/10/2026), ketika tekanan eksternal dan kekhawatiran domestik masih membayangi pasar keuangan Indonesia.

Rupiah melemah 28 poin atau 0,15% dibandingkan penutupan sebelumnya sebesar Rp18.156 per Dolar AS, sedangkan kurs JISDOR Bank Indonesia (BI) berada di Rp18.183 per Dolar AS.

Di tengah tekanan tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan keyakinannya bahwa rupiah tidak akan menembus Rp19.000 per Dolar AS.

Konflik Timur Tengah dan Harga Minyak Di Atas 115 Dolar AS Per Barel Memperbesar Ketidakpastian

BI mengungkapkan bahwa ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah masih memengaruhi pergerakan rupiah dan mata uang negara-negara kawasan.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menjelaskan bahwa kondisi tersebut membuat harga minyak bertahan di atas 115 Dolar AS per barel.

“Kondisi ini menjaga harga minyak tetap tinggi, di atas 115 Dolar AS per barel, serta meningkatkan risiko fiskal ke depan. Ekspektasi kenaikan suku bunga AS juga meningkat,” kata Erwin.

Harga minyak yang tinggi dapat menambah tekanan terhadap kebutuhan pembiayaan energi, sementara perubahan ekspektasi suku bunga Amerika Serikat berpotensi memengaruhi pergerakan modal internasional.

Penguatan Dolar AS dan Arus Keluar Modal dari Negara Berkembang Menambah Tantangan Stabilitas

Menurut Erwin, memburuknya sentimen penghindaran risiko atau risk-off mendorong penguatan Dolar AS dan arus keluar dana dari pasar negara berkembang.

Tekanan itu berlangsung bersamaan dengan kenaikan imbal hasil obligasi, yang dapat memengaruhi keputusan investor dalam menentukan alokasi aset di berbagai negara.

Pergerakan rupiah tersebut tidak dapat dijelaskan hanya oleh satu faktor karena kondisi global, perbedaan ekspektasi suku bunga, dan sentimen investor dapat bekerja secara bersamaan.

Kekhawatiran Terhadap Klasifikasi Pasar Indonesia Oleh MSCI Ikut Menjadi Perhatian Investor

Dari dalam negeri, BI menyoroti kekhawatiran atas potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI sebagai salah satu faktor yang menekan aliran dana.

Isu tersebut menambah tantangan bagi pasar keuangan karena persepsi investor terhadap transparansi, tata kelola, dan aksesibilitas pasar dapat memengaruhi keputusan investasi.

BI juga mencatat meningkatnya kebutuhan valuta asing domestik menjelang akhir bulan sebagai faktor tambahan yang perlu diperhatikan dalam perkembangan nilai tukar.

Airlangga Tetap Optimistis, BI Menstabilisasi Melalui Pasar Valuta Asing dan Pembelian Surat Berharga

Airlangga menilai kondisi makroekonomi Indonesia masih relatif stabil sehingga ia optimistis rupiah tidak akan melemah hingga menembus Rp19.000 per Dolar AS.

“Ya, kita lihat saja, tapi kita lebih optimis (rupiah tidak tembus Rp19.000 per Dolar AS), nanti kita lihat, kita optimis dengan kondisi makroekonomi,” kata Airlangga di Jakarta, Rabu, (28/10/2026).

Sementara itu, BI terus melakukan stabilisasi melalui transaksi spot, NDF, dan DNDF, serta pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder.

Cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar 146,3 miliar Dolar AS pada akhir September 2026, sedangkan pelemahan rupiah secara bulanan mencapai 1,15%.

Tekanan rupiah mencerminkan pertemuan risiko global dan sentimen domestik, sehingga optimisme pemerintah tetap perlu diuji melalui perkembangan pasar dan efektivitas kebijakan stabilisasi.****

Berita Terkait

Terima Rais (Kepala) Republik Tatarstan Federasi Rusia, Menko Airlangga Dorong Penguatan Investasi dan Kerja Sama Industri Indonesia-Tatarstan
Hadiri Pelatihan Bela Negara Mahasiswa PKN STAN, Wamenkeu Nurkholisoh Titipkan Pesan Ini
Kuatnya Ekonomi Indonesia Triwulan III-2026 Diikuti Perbaikan Ketenagakerjaan
Perluas Fleksibilitas DHE SDA dan Siapkan Go-Live Portal DSI, Pemerintah Pastikan Ekspor Tetap Lancar
3 Alternatif Penguatan Modal MNC Bank Disampaikan OJK, Hary Tanoesoedibjo Diminta Perhatikan Kepentingan Nasabah
Transformasi Struktur Ekonomi Buka Peluang Baru, Pemerintah Perkuat Investasi dan Kesiapan Tenaga Kerja
Cadangan Devisa Oktober 2026 Tetap Terjaga
Menkeu Suahasil Nazara: Investasi Perlu Tumbuh 7% untuk Dukung Target Pertumbuhan Ekonomi 6% pada 2027

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 20:42 WIB

Terima Rais (Kepala) Republik Tatarstan Federasi Rusia, Menko Airlangga Dorong Penguatan Investasi dan Kerja Sama Industri Indonesia-Tatarstan

Jumat, 6 November 2026 - 19:55 WIB

Hadiri Pelatihan Bela Negara Mahasiswa PKN STAN, Wamenkeu Nurkholisoh Titipkan Pesan Ini

Jumat, 6 November 2026 - 19:20 WIB

Kuatnya Ekonomi Indonesia Triwulan III-2026 Diikuti Perbaikan Ketenagakerjaan

Jumat, 6 November 2026 - 18:59 WIB

Perluas Fleksibilitas DHE SDA dan Siapkan Go-Live Portal DSI, Pemerintah Pastikan Ekspor Tetap Lancar

Jumat, 6 November 2026 - 17:08 WIB

3 Alternatif Penguatan Modal MNC Bank Disampaikan OJK, Hary Tanoesoedibjo Diminta Perhatikan Kepentingan Nasabah

Berita Terbaru

Chat via WhatsApp